Perdagangan valuta asing di pasar domestik mencatatkan tren positif pada penutupan pekan ketiga Agustus 2026. Mata uang rupiah menunjukkan ketahanan yang solid di tengah fluktuasi pasar finansial global. Pada penutupan perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026, nilai tukar rupiah menguat sebesar 54 poin atau setara dengan 0,30 persen ke level Rp17.694 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini melanjutkan momentum apresiasi yang telah terbentuk sejak hari perdagangan sebelumnya, sekaligus mencerminkan adanya respons pasar yang konstruktif terhadap stabilitas fundamental ekonomi nasional serta penyesuaian sentimen dari ranah internasional.
Pergerakan nilai tukar pada hari Jumat tersebut diawali dengan posisi pembukaan yang mendatar di angka Rp17.748 per dolar AS. Posisi pembukaan tersebut sama persis dengan level penutupan pada hari Kamis, 20 Agustus 2026. Pada sesi perdagangan Kamis tersebut, mata uang Garuda sebelumnya juga telah membukukan lonjakan signifikan dengan apresiasi sebesar 92 poin atau naik 0,52 persen dari posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp17.840 per dolar AS. Rangkaian pergerakan positif ini memperlihatkan adanya minat beli terhadap rupiah yang berlanjut dan mampu mengimbangi tekanan permintaan mata uang asing di pasar tunai.
Kinerja Nilai Tukar Rupiah dan Penguatan di Pasar Spot
Pasar spot valuta asing menjadi cerminan langsung dari interaksi penawaran dan permintaan likuiditas harian antara pelaku perbankan dan korporasi. Penguatan rupiah hingga mencapai Rp17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, memperlihatkan aliran likuiditas yang cukup stabil di pasar domestik. Pergerakan kurs spot yang bergerak dari Rp17.840 per dolar AS pada pertengahan pekan menjadi Rp17.748 per dolar AS pada Kamis, dan kemudian berakhir di Rp17.694 per dolar AS pada akhir pekan, menjadi bukti bahwa tekanan terhadap mata uang domestik berangsur mereda.
Apresiasi sebesar 54 poin pada sesi penutupan Jumat menegaskan bahwa para pelaku pasar memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS di tingkat global. Aktivitas transaksi di pasar spot berlangsung dengan penyesuaian posisi portofolio yang terukur. Fluktuasi yang terjadi sepanjang hari perdagangan tetap berada dalam rentang yang terkendali, didukung oleh pasokan valuta asing yang memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran maupun kebutuhan operasional dunia usaha di pasar valas domestik.
Kurs Acuan JISDOR dan Transaksi Valuta Asing Antarbank
Sejalan dengan penguatan pada transaksi pasar spot, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh otoritas moneter turut memperlihatkan kurva penguatan yang nyata. Pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, kurs acuan JISDOR berada pada level Rp17.705 per dolar AS. Angka ini mencatatkan penguatan yang signifikan apabila dibandingkan dengan posisi pada sesi perdagangan sebelumnya, di mana kurs acuan JISDOR tercatat berada di posisi Rp17.779 per dolar AS.
Pergerakan kurs acuan JISDOR mencerminkan rata-rata tertimbang dari seluruh volume transaksi valuta asing antarbank riil yang terjadi di pasar domestik. Penurunan angka acuan dari Rp17.779 menuju Rp17.705 per dolar AS mengindikasikan bahwa harga pembentukan valas secara agregat di sistem perbankan nasional memang mengalami perbaikan nilai tukar yang merata. Kurs JISDOR memberikan representasi yang jelas bagi pelaku pasar dan korporasi mengenai posisi rata-rata nilai tukar rupiah yang sebenarnya di luar distorsi volatilitas sesaat.
Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia dan Stabilitas Moneter
Dari sisi kebijakan moneter internal, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi menjadi faktor penopang utama bagi ketahanan rupiah. Bank Indonesia mengambil keputusan strategis untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen. Keputusan mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen ini dinilai sejalan dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran yang ditetapkan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan arah kebijakan bank sentral dalam menghadapi dinamika pasar valas. Pada hari Rabu, 19 Agustus 2026, Destry Damayanti menyatakan bahwa Bank Indonesia secara konsisten menempuh strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan ini menegaskan komitmen otoritas moneter agar volatilitas rupiah tidak mengganggu keyakinan pelaku pasar dan stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh. Kepastian kebijakan moneter di level 5,75 persen memberikan kejelasan bagi para pelaku pasar mengenai arah kebijakan suku bunga domestik.
Komitmen bank sentral yang diutarakan tersebut memberikan sinyal kuat bahwa otoritas moneter senantiasa berada di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan efisien dan likuiditas valas tetap tersedia. Penegasan mengenai stabilitas nilai tukar tersebut menjadi landasan kokoh bagi rupiah untuk tetap bertahan dari tekanan eksternal dan menarik minat penempatan dana pada instrumen keuangan berdenominasi rupiah.
Risalah FOMC dan Pelemahan Indeks Dolar Amerika Serikat
Dinamika pasar valas domestik tidak terlepas dari perkembangan sentimen suku bunga acuan di Amerika Serikat. Rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), memberikan pengaruh besar terhadap arah pergerakan mata uang global. Dokumen risalah FOMC tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat The Fed mengenai arah dan trajektori suku bunga acuan ke depan.
Trump Resmi Hajar Kanada dengan Tarif 50%, Perang Dagang Memanas

Perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed tersebut menciptakan ketidakpastian mengenai keberlanjutan kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat. Sebagian pejabat menimbang risiko perlambatan ekonomi, sementara yang lain masih mencermati perkembangan inflasi. Kondisi perbedaan pendapat ini memicu aksi penyesuaian posisi investasi oleh para pelaku pasar finansial global terhadap mata uang dolar AS.
Akibat dari berkembangnya perbedaan pandangan tersebut, dolar AS mengalami tekanan jual di pasar internasional. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja mata uang greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, mengalami penurunan sebesar 0,22 persen ke level 98,62 pada perdagangan hari Kamis, 20 Agustus 2026. Penurunan ini menyebabkan indeks DXY kembali tergelincir ke bawah level psikologis 99. Pelemahan indeks dolar AS ini secara otomatis memberikan ruang apresiasi bagi mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah.
Dampak Program Pembelian Kembali Surat Utang Departemen Keuangan AS
Selain risalah FOMC, sentimen pasar global juga dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan yang diambil oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat. Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah untuk meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) terhadap sekuritas utang jangka panjang. Kebijakan peningkatan volume buyback ini langsung direspons oleh pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat melalui pergerakan imbal hasil (yield) yang menurun secara tajam.
Menyusul pengumuman tersebut, imbal hasil acuan Treasury AS bertenor 10 tahun tercatat turun lebih dari 5 basis poin (bps). Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun merosot hampir 9 basis poin (bps). Penurunan ini menjadi pembalikan tren yang cukup tajam di pasar obligasi global. Sebelumnya, imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level 5,337 persen, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007. Namun, pasca-pengumuman program pembelian kembali oleh Departemen Keuangan AS, imbal hasil obligasi jangka panjang tersebut meluncur turun menuju kisaran 5,184 persen.
Penurunan imbal hasil Treasury AS ini meredakan tekanan di pasar obligasi global dan memicu penurunan yield acuan tenor 10 tahun AS ke kisaran 4,65 persen. Meredanya yield surat utang pemerintah AS mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar AS dalam jangka pendek, sehingga mendorong diversifikasi modal kembali ke aset-aset negara berkembang yang menawarkan selisih imbal hasil lebih menarik.
Perbandingan Imbal Hasil SUN Indonesia dan Obligasi Global
Stabilitas pasar keuangan domestik turut ditopang oleh daya saing imbal hasil instrumen surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) Indonesia bertenor sepuluh tahun tercatat berada di kisaran 7,02 persen. Tingkat imbal hasil ini mencerminkan premi risiko yang memadai bagi para investor obligasi di pasar domestik.
Sementara itu, untuk instrumen surat utang pemerintah Indonesia yang diterbitkan dalam denominasi valuta asing, obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS mencatatkan imbal hasil di kisaran 5,62 persen. Angka imbal hasil 5,62 persen tersebut memberikan rentang selisih yang menarik jika dibandingkan dengan imbal hasil Treasury AS tenor sepuluh tahun yang berada di level sekitar 4,65 persen.
Perbedaan imbal hasil (spread) antara obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS sebesar 5,62 persen dan US Treasury 10 tahun sebesar 4,65 persen, serta yield SUN rupiah 10 tahun di level 7,02 persen, memperkuat daya tarik investasi di pasar modal Indonesia. Kondisi selisih imbal hasil yang terjaga ini membantu menopang kestabilan arus modal portofolio, yang pada gilirannya memberikan dukungan langsung bagi penguatan nilai tukar rupiah di pasar spot.
Dinamika Mata Uang Kawasan Asia terhadap Dolar AS
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlangsung beriringan dengan tren pergerakan mata uang di kawasan regional Asia pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Tertekannya indeks DXY memberikan dorongan penguatan bagi sebagian besar mata uang negara mitra di Asia. Penguatan mata uang regional pada hari tersebut tercatat bervariasi di berbagai negara:
Dampak Rencana Trump Pangkas Tarif Impor Daging Sapi dan Alasan di Balik Penolakan Peternak AS

- Ringgit Malaysia mencatatkan kenaikan sebesar 0,39 persen terhadap dolar AS.
- Peso Filipina menguat sebesar 0,26 persen.
- Baht Thailand mengalami apresiasi sebesar 0,21 persen.
- Yuan China turut membukukan kenaikan tipis sebesar 0,13 persen terhadap greenback.
Kendati mayoritas mata uang kawasan Asia mengalami penguatan bersama rupiah, beberapa mata uang utama regional justru masih mencatatkan pelemahan pada hari yang sama. Won Korea Selatan tercatat terdepresiasi sebesar 0,42 persen terhadap dolar AS. Selain itu, yen Jepang mengalami penurunan sebesar 0,09 persen, dan dolar Hong Kong melemah tipis sebesar 0,03 persen terhadap dolar AS.
Perbedaan arah pergerakan mata uang di kawasan Asia ini mengindikasikan bahwa pelemahan indeks dolar AS direspons secara berbeda tergantung pada kondisi fundamental masing-masing negara. Kinerja rupiah yang mampu menguat 0,52 persen pada hari Kamis dan berlanjut menguat 0,30 persen pada hari Jumat memperlihatkan bahwa posisi mata uang Indonesia tergolong kompetitif dan kuat di antara mata uang kawasan Asia lainnya.
Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan dan Keseimbangan Eksternal
Di tengah penguatan kurs spot jangka pendek, pelaku pasar juga tetap mencermati indikator fundamental makroekonomi jangka menengah, khususnya sektor eksternal. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyampaikan proyeksi terkait posisi transaksi berjalan Indonesia. Josua Pardede memprediksi bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia berpotensi melebar menjadi 3,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2026.
Proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2026 tersebut menandai lonjakan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi pada kuartal I-2026. Pada kuartal I-2026, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat berada pada level 1,09 persen terhadap PDB. Pelebaran defisit neraca transaksi berjalan ini menjadi perhatian penting karena mencerminkan peningkatan kebutuhan devisa untuk membiayai impor barang dan jasa serta pembayaran pendapatan primer ke luar negeri.
Proyeksi defisit transaksi berjalan yang mencapai 3,09 persen PDB ini menegaskan bahwa meskipun rupiah mendapat sentimen positif dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan indeks DXY, faktor fundamental transaksi berjalan tetap menjadi faktor penyeimbang yang menuntut kehati-hatian dalam memproyeksikan stabilitas kurs jangka panjang.
Asumsi Minyak Mentah ICP dan Implikasi Kebijakan Subsidi Fiskal
Faktor lain yang menjadi sorotan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan neraca pembayaran Indonesia adalah pergerakan harga komoditas energi serta asumsi fiskal pemerintah. Dalam perencanaan anggaran untuk tahun 2027, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel. Namun, penetapan asumsi ICP US$75 per barel ini tercatat masih berada di bawah tingkat harga minyak mentah yang berlaku di pasar saat itu, yakni di kisaran US$83 per barel.
Selisih antara asumsi ICP sebesar US$75 per barel dengan harga pasar minyak yang berada di kisaran US$83 per barel berpotensi memengaruhi beban pembiayaan energi negara. Kesenjangan harga ini memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak yang membutuhkan pasokan valuta asing dalam jumlah signifikan.
Bersamaan dengan proyeksi harga minyak tersebut, muncul rencana penyesuaian kuota bahan bakar minyak bersubsidi untuk tahun 2027. Pemangkasan kuota BBM bersubsidi diproyeksikan dapat mencapai hingga 58,5 persen. Dengan adanya potensi pemangkasan kuota subsidi hingga 58,5 persen tersebut, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap bahan bakar bersubsidi. Kebijakan fiskal dan energi ini menjadi bagian penting dalam kalkulasi ketahanan ekonomi domestik terhadap volatilitas harga komoditas global.
Secara keseluruhan, rangkaian pergerakan nilai tukar rupiah pada penutupan pekan ketiga Agustus 2026 mencerminkan perpaduan antara keberhasilan instrumen moneter domestik dan pergeseran kondisi finansial global. Penguatan rupiah ke level Rp17.694 per dolar AS di pasar spot, apresiasi JISDOR ke Rp17.705 per dolar AS, pertahanan suku bunga BI-Rate di 5,75 persen, penurunan imbal hasil obligasi AS, serta pelemahan indeks dolar AS ke level 98,62 menjadi faktor-faktor utama yang membentuk arah pergerakan pasar valuta asing secara menyeluruh.






