Aktivitas kegempaan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih berlangsung intensif pascagempa utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7. Berdasarkan pemetaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 30 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, jumlah gempa susulan telah mencapai 9.870 kejadian.
Rangkaian gempa yang mengguncang kawasan tersebut sejak 15 Agustus sebelumnya tercatat menyentuh 7.259 kali pada Selasa (25/8). Seluruh gempa susulan yang terdata memiliki rentang kekuatan antara M1,0 hingga yang terbesar M6,2. Dari total ribuan gempa tersebut, sebanyak 35 kejadian tercatat bermagnitudo M5,0 ke atas, dan sedikitnya 156 getaran dirasakan langsung oleh masyarakat.
Secara tektonik, pusat gempa utama serta mayoritas gempa susulan berlokasi di sepanjang zona Flores Backarc Thrust atau Sesar Naik Belakang Busur Flores. Sebaran titik gempa membentang dari arah barat ke timur di perairan Laut Flores hingga merambat ke daratan Pulau Flores bagian tengah dan barat. Sebagian besar lindu tersebut tergolong gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer.
Menpar, Kerugian Kebakaran Desa Adat Sade Capai Rp33,84 Miliar

Munculnya Mekanisme Off-Fault Seismicity
Di tengah tingginya frekuensi gempa susulan, variasi mekanisme sumber gempa menjadi perhatian khusus. Pada sedikitnya empat kejadian bermagnitudo di atas M5,0 pada kluster Flores bagian barat, mekanisme fokal menunjukkan karakter sesar turun (normal fault), berbeda dengan gempa utama yang bersumber dari sesar naik (thrust fault).
Kondisi ini mengindikasikan terjadinya fenomena off-fault seismicity, yaitu timbulnya aktivitas gempa di luar bidang patahan utama yang mengalami rekahan awal. Fenomena ini dipicu oleh proses Coulomb stress transfer, di mana perpindahan dan perubahan tegangan pascagempa utama meningkatkan tekanan pada sesar-sesar di sekitarnya yang semula terkunci hingga akhirnya bergerak.
Kebakaran di Gambir Jakpus Hanguskan Sejumlah Rumah dan Gedung Kosong

Pola seismisitas di luar bidang patahan utama ini juga tercatat dalam beberapa peristiwa gempa terdahulu, seperti gempa Ambon M6,5 pada 26 September 2019 yang memicu lebih dari 3.000 gempa susulan di berbagai struktur sesar sekitar sumber utama. Di ranah global, karakteristik serupa ditemukan pada gempa Landers di California M7,3 (1992), Kumamoto di Jepang M7,3 (2016), Kaik艒ura di Selandia Baru M7,8 (2016), dan Ridgecrest di California M7,1 (2019).
Merespons kondisi kegempaan yang masih berlangsung, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah memperpanjang masa tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari. Distribusi bantuan logistik terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, meliputi pakaian dewasa dan anak-anak, popok bayi, susu, makanan kaleng, obat-obatan, matras, serta terpal.






