Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiBisnisNasionalInternasionalOlahragaTeknologiKesehatanPendidikanBusinessNationalPopuler
Beranda/National

Membaca Sejarah Gempa Dahsyat di Selatan Jawa, Dari Tragedi 1867 hingga Pembelajaran Masa Kini

Ding Anyi ApuiDiterbitkan 23 Agu 2026 - 07.48 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Membaca Sejarah Gempa Dahsyat di Selatan Jawa, Dari Tragedi 1867 hingga Pembelajaran Masa Kini
Foto/Ilustrasi: cnbcindonesia.com.
A-A+

Peristiwa bencana gempa bumi senantiasa menyisakan duka mendalam dan jejak kehancuran yang nyata bagi masyarakat. Saat ini, Indonesia masih berduka atas bencana gempa yang menimpa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa kebencanaan semacam ini mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa kepulauan Indonesia berada di wilayah dengan aktivitas kegempaan yang aktif dan dinamis. Catatan masa lampau memperlihatkan bahwa rentetan peristiwa seismik berskala besar telah berulang kali melanda berbagai kawasan di tanah air, termasuk wilayah selatan Pulau Jawa. Melalui pembacaan mendalam terhadap rekaman sejarah, masyarakat dapat memahami betapa dahsyatnya dampak yang ditimbulkan oleh pelepasan energi dari dalam bumi, baik terhadap infrastruktur fisik, cagar budaya, maupun tatanan kehidupan sosial masyarakat dari generasi ke generasi.

Salah satu catatan peristiwa kegempaan paling destruktif yang pernah terdokumentasikan dalam sejarah selatan Jawa adalah peristiwa gempa bumi berkekuatan besar pada abad ke-19. Peristiwa tersebut menjadi rujukan penting dalam literatur geologi dan kebencanaan, karena tidak hanya meluluhlantakkan pusat getaran di Yogyakarta, tetapi juga meruntuhkan berbagai bangunan cagar budaya ternama serta menelan ribuan korban jiwa. Berbagai rekaman arsip dari media masa lalu dan telaah mutakhir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan gambaran utuh mengenai magnitudo, mekanisme sumber, hingga jangkauan kerusakan yang timbul. Mengkaji ulang peristiwa tersebut secara komprehensif membuka kesadaran kolektif akan pentingnya mengenali karakteristik ancaman bahaya seismik di Indonesia.

Catatan Historis Gempa Yogyakarta 10 Juni 1867 Berdasarkan Arsip de Locomotief

Rekaman sejarah mengenai peristiwa seismik besar di Yogyakarta terdokumentasi secara tertulis dalam terbitan surat kabar zaman kolonial. Berdasarkan laporan surat kabar de Locomotief tertanggal 20 Juni 1867, disebutkan bahwa bencana gempa bumi dahsyat yang berpusat di Yogyakarta terjadi pada tanggal 10 Juni 1867. Catatan tersebut menjadi sumber primer yang sangat berharga dalam merekonstruksi kronologi peristiwa yang mengguncang kawasan selatan Jawa lebih dari satu setengah abad silam. Kehadiran dokumentasi bertarikh 20 Juni 1867 ini memperlihatkan bagaimana kabar mengenai bencana besar tersebut menyebar dan diberitakan secara luas setelah peristiwa berlangsung.

Laporan de Locomotief memberikan kesaksian autentik mengenai dahsyatnya getaran yang mengejutkan penduduk di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Peristiwa yang berlangsung pada 10 Juni 1867 tersebut terjadi pada waktu dini hari, ketika sebagian besar masyarakat masih beristirahat, sehingga menimbulkan keterkejutan luar biasa dan kepanikan massal. Melalui laporan tertulis tersebut, para sejarawan dan peneliti kegempaan modern dapat memastikan letak pusat guncangan utama serta waktu pasti terjadinya guncangan hebat yang meluluhlantakkan pemukiman serta fasilitas publik di wilayah Yogyakarta pada masa itu.

Dokumentasi pers sezaman seperti de Locomotief menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kawasan Yogyakarta memiliki sejarah kebencanaan seismik yang panjang. Laporan yang terbit sepuluh hari pascabencana tersebut mendeskripsikan suasana kekacauan dan keparahan dampak yang ditimbulkan di pusat pemerintahan dan pemukiman warga. Keberadaan arsip ini menegaskan pentingnya penyelamatan dokumen sejarah kebencanaan sebagai rujukan ilmiah yang sahih untuk meneliti pola perulangan gempa bumi di kawasan selatan Jawa.

Parameter Seismik dan Mekanisme Deformasi Lempeng Menurut BMKG

Kajian ilmiah modern yang dilakukan oleh BMKG memberikan penjelasan terperinci mengenai besaran magnitudo serta waktu terjadinya bencana gempa tahun 1867. Laporan BMKG menyebutkan bahwa gempa bumi tahun 1867 tersebut memiliki kekuatan sebesar M7,8. Guncangan berskala M7,8 ini terjadi sekitar pukul 04.20 waktu setempat. Dengan magnitudo sebesar itu dan waktu kejadian pada subuh hari sekitar pukul 04.20, guncangan gempa menimbulkan daya rusak yang luar biasa terhadap struktur bangunan di daratan Jawa yang kala itu belum dirancang dengan ketahanan gempa modern.

Lebih lanjut, BMKG menjelaskan bahwa penyebab utama dari terjadinya gempa dahsyat berkekuatan M7,8 tersebut adalah adanya deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia yang berpusat di Samudera Hindia. Proses deformasi batuan di dalam lempeng samudra tersebut melepaskan akumulasi tegangan tektonik yang sangat masif, memicu gelombang seismik bertenaga raksasa yang merambat dari dasar laut Samudera Hindia menuju daratan Pulau Jawa. Penjelasan dari BMKG ini menempatkan peristiwa 1867 sebagai gempa intra-lempeng yang bersumber di Samudera Hindia bagian selatan.

Kombinasi antara magnitudo M7,8 dan sumber pelepasan energi di Samudera Hindia akibat deformasi batuan lempeng Indo-Australia menjelaskan mengapa gempa pada pukul 04.20 waktu setempat tersebut mampu melumpuhkan wilayah daratan yang sangat luas. Informasi ilmiah dari BMKG ini menjadi fondasi penting bagi para pakar geofisika dalam memetakan potensi risiko bahaya seismik di sepanjang perairan selatan Jawa hingga batas interaksi lempeng Indo-Australia di Samudera Hindia.

Baca Juga

Pertamina Hadir Dampingi Warga Terdampak Gempa Flores Melalui Bantuan Logistik dan Pemulihan

Pertamina Hadir Dampingi Warga Terdampak Gempa Flores Melalui Bantuan Logistik dan Pemulihan

Jangkauan Rambatan Guncangan dari Semarang hingga Banyuwangi

Dampak getaran dari gempa bumi berkekuatan M7,8 pada 10 Juni 1867 tidak hanya terlokalisasi di kawasan pusat gempa di Yogyakarta. Kala itu, guncangan gempa yang berpusat di Yogyakarta terasa sangat nyata hingga ke berbagai kota lain di Pulau Jawa, seperti Semarang, Surakarta, Madiun, hingga ke wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa. Luasnya wilayah yang merasakan getaran ini membuktikan kekuatan energi gelombang seismik yang dipancarkan dari pusat deformasi di Samudera Hindia.

Di kota-kota yang berjarak cukup jauh seperti Semarang di pesisir utara serta Surakarta di pedalaman Jawa Tengah, guncangan gempa bumi 10 Juni 1867 mengejutkan masyarakat setempat pada pagi hari. Getaran yang merambat hingga ke Madiun di Jawa Timur dan terus menjalar sampai ke Banyuwangi memperlihatkan bahwa gelombang seismik tersebut melintasi formasi geologi daratan Jawa dengan intensitas yang masih sangat terasa oleh manusia dan mampu mengguncang bangunan.

Persebaran getaran dari Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Madiun, hingga Banyuwangi menjadi catatan krusial mengenai spektrum jangkauan guncangan gempa besar di selatan Jawa. Fakta historis ini memperlihatkan bahwa peristiwa gempa bumi berkekuatan M7,8 dengan mekanisme deformasi lempeng di Samudera Hindia memiliki kapasitas untuk memengaruhi kawasan regional yang membentang ratusan kilometer dari pusat guncangan utama.

Kehancuran Struktur Ikonik: Candi Sewu, Tugu Golong Gilig, dan Tugu Pal Putih

Kerusakan fisik yang diakibatkan oleh guncangan gempa bumi dahsyat pada 10 Juni 1867 menimpa berbagai bangunan penting dan monumen bersejarah. Beberapa bangunan khas Yogyakarta mengalami kerusakan parah hingga hancur total akibat getaran berkekuatan M7,8 tersebut. Bangunan khas yang hancur meliputi cagar budaya monumental Candi Sewu, serta landmark bersejarah Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih di Yogyakarta.

Kehancuran Candi Sewu menjadi salah satu bukti paling nyata mengenai tingginya percepatan tanah yang terjadi saat peristiwa gempa berlangsung. Struktur batu candi yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad mengalami keruntuhan akibat ketidakmampuan susunan batu menahan gaya getaran lateral yang kuat. Kerusakan pada Candi Sewu mencerminkan kerentanan bangunan cagar budaya berstruktur batu terhadap goncangan gempa bumi berkekuatan besar yang berpusat di kawasan selatan.

Selain kompleks percandian, simbol lanskap perkotaan Yogyakarta yaitu Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih juga turut hancur diguncang gempa subuh tersebut. Runtuhnya Tugu Golong Gilig dan Tugu Pal Putih memperlihatkan betapa destruktifnya dampak getaran terhadap struktur vertikal di pusat kota Yogyakarta. Peristiwa hancurnya Candi Sewu, Tugu Golong Gilig, dan Tugu Pal Putih tercatat dalam lembaran sejarah sebagai kehilangan arsitektural yang sangat besar bagi warisan budaya Yogyakarta.

Korban Jiwa Lintas Etnis dalam Telaah Buku Werner Kraus

Selain meluluhlantakkan bangunan fisik dan monumen bersejarah, peristiwa gempa bumi tahun 1867 merenggut banyak korban jiwa. Werner Kraus dalam bukunya yang berjudul Rade Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) menyatakan bahwa ribuan orang meninggal dunia karena gempa tersebut. Pernyataan Werner Kraus (2018) ini menegaskan skala bencana yang sangat mematikan di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya pada waktu itu.

Data historis yang diuraikan lebih lanjut mencatat bahwa korban jiwa dari bencana gempa 1867 tidak hanya berasal dari kalangan orang asli Indonesia. Korban yang meninggal dunia mencakup berbagai kelompok masyarakat yang mendiami kawasan tersebut, termasuk beberapa warga berkebangsaan Belanda, warga keturunan Arab, dan warga keturunan China. Keberadaan korban dari latar belakang orang asli Indonesia, Belanda, Arab, dan China memperlihatkan bahwa gempa bumi melanda permukiman heterogen tanpa membedakan status sosial maupun etnis.

Baca Juga

Prabowo Pastikan Tindak Tegas Perusahaan yang Terbukti Lakukan Pembakaran Hutan

Prabowo Pastikan Tindak Tegas Perusahaan yang Terbukti Lakukan Pembakaran Hutan

Catatan dalam buku Rade Saleh: Kehidupan dan Karyanya (2018) karya Werner Kraus memberikan konfirmasi penting mengenai dimensi kemanusiaan dari tragedi 1867. Ribuan korban meninggal dunia yang meliputi penduduk pribumi hingga warga Belanda, Arab, dan China menjadi bukti nyata bahwa dampak mematikan gempa bumi berskala M7,8 menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang bermukim di wilayah terdampak.

Respons Warga Menurut Laporan Surat Kabar Java Bode

Di tengah situasi kehancuran yang masif dan kepanikan pascabencana, masyarakat berusaha mencari ketenangan batin dan memohon perlindungan dari Sang Pencipta. Berdasarkan laporan dari surat kabar Java Bode edisi 27 Juni 1867, disebutkan bahwa banyak dari warga yang selamat menggelar zikir dan doa bersama agar diberikan keselamatan oleh Tuhan. Pemberitaan Java Bode tertanggal 27 Juni 1867 tersebut menggambarkan suasana kebatinan masyarakat yang menghadapi krisis bencana.

Kegiatan zikir dan doa bersama yang dilaporkan oleh Java Bode (27 Juni 1867) menunjukkan bahwa respons spiritual dan keagamaan menjadi bagian penting dari upaya masyarakat dalam menghadapi dampak traumatis bencana gempa bumi. Penduduk berkumpul untuk memanjatkan permohonan keselamatan kepada Tuhan di tengah reruntuhan bangunan dan duka atas kehilangan sanak saudara.

Laporan Java Bode ini merekam dimensi psikososial masyarakat masa lampau saat menghadapi peristiwa kegempaan yang luar biasa. Doa bersama dan zikir yang digelar secara kolektif mencerminkan solidaritas spiritual serta harapan warga agar terhindar dari bahaya getaran susulan pascagempa dahsyat 10 Juni 1867 yang telah meluluhlantakkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Perulangan Sejarah: Gempa Yogyakarta 26 Mei 2006 dan Solidaritas Kebencanaan

Kerentanan seismik kawasan Yogyakarta kembali terbukti ratusan tahun setelah peristiwa 1867. Tepatnya pada tanggal 26 Mei 2006, Yogyakarta kembali diguncang oleh gempa bumi yang merusak. Bencana yang terjadi sekitar 20 tahun lalu tersebut memiliki kekuatan sebesar M6,3 dan menewaskan sebanyak 5.000 orang. Peristiwa 26 Mei 2006 menjadi pengingat nyata bahwa wilayah Yogyakarta senantiasa berada dalam ancaman bahaya gempa bumi yang dapat berulang sewaktu-waktu.

Perbandingan antara gempa M7,8 pada tahun 1867 dan gempa M6,3 pada 26 Mei 2006 yang menelan 5.000 korban jiwa menegaskan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan terhadap aktivitas seismik di selatan Jawa. Meskipun berselang ratusan tahun, kedua peristiwa kelam ini menunjukkan karakteristik bahaya geologis nyata yang menuntut perhatian serius dari seluruh komponen masyarakat dan pemangku kebijakan terkait kebencanaan.

Kesadaran akan sejarah bencana di selatan Jawa ini terhubung erat dengan empati nasional saat ini, di mana Indonesia masih berduka pada bencana gempa yang menimpa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Solidaritas kemanusiaan untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun refleksi mendalam atas peristiwa gempa masa lalu di Yogyakarta鈥攂aik peristiwa tahun 1867 dengan hancurnya Candi Sewu, Tugu Golong Gilig, Tugu Pal Putih, maupun gempa 2006 yang menewaskan 5.000 orang鈥攎enjadi pijakan fundamental bagi bangsa Indonesia untuk terus mengingat rekam jejak bencana dan memperkuat kepedulian bersama.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

BMKGYogyakartaGempa Bumi

Berita Terbaru Lainnya

Pertamina Hadir Dampingi Warga Terdampak Gempa Flores Melalui Bantuan Logistik dan PemulihanPengembangan Potensi Ekonomi Desa Harus Diiringi Perluasan Akses PasarHasil Liga Primer Inggris Brentford vs Tottenham Hotspur, The Bees Sengat The Lillywhites, Evaluasi Mendalam Debut Skuat Triliunan RupiahHasil Serie A Inter Milan vs Monza, Nerazzurri Menang Telak di Giuseppe MeazzaPerkuat Posisinya di Global, BRI Group Sabet 6 Penghargaan BergengsiPerombakan Pengurus Sinar Mas Multifinance, Indra Widjaja Mundur dari Posisi Komisaris UtamaMuncul Isu Merger Mitratel dan Tower Bersama, Telkom Buka SuaraPrabowo Pastikan Tindak Tegas Perusahaan yang Terbukti Lakukan Pembakaran Hutan

Paling Banyak Dibaca

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

Seni Budaya

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

1 Agu 2026

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

Ekonomi

Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi Pesawat

25 Jul 2026

Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari Pembeli

Nasional

Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari Pembeli

11 Agu 2026

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

Hiburan

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

3 Agu 2026

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

Hukum

Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK

25 Jul 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai DaerahSeni Budaya 路 1 Agu 2026
  2. 2Investigasi Keselamatan Boeing Mengungkap Celah Kualitas Produksi PesawatEkonomi 路 25 Jul 2026
  3. 3Perwira TNI AL Didakwa Edarkan 9,83 Gram Sabu, Istri Cari PembeliNasional 路 11 Agu 2026
  4. 4Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik NusantaraHiburan 路 3 Agu 2026
  5. 5Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPKHukum 路 25 Jul 2026
Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiBisnisNasionalInternasionalOlahragaTeknologiKesehatanPendidikanBusinessNational

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap