Sebuah kelalaian teknis yang tampak sepele berujung pada tragedi penerbangan fatal di lepas pantai Peru. Peristiwa nahas yang menimpa pesawat Boeing 757-200 milik maskapai AeroPer煤 pada 2 Oktober 1996 menjadi bukti bagaimana selembar selotip pelindung yang lupa dilepas memicu kecelakaan maut yang menewaskan puluhan orang.
Penerbangan bernomor AeroPer煤 603 tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Jorge Ch谩vez di Lima pada pukul 05.42 UTC menuju Santiago de Chile. Namun, sesaat setelah mengudara dan mencapai kecepatan tinggi, kru kokpit mendapati alat pembaca ketinggian (altimeter) membeku serta tidak merespons secara normal.
Menghadapi anomali tersebut, pilot segera mendeklarasikan situasi darurat kepada menara pengawas lalu lintas udara dan meminta bantuan panduan radar (vektor) agar dapat kembali ke bandara. Di saat yang sama, ruang kokpit dibanjiri rentetan alarm darurat yang saling bertolak belakang, membingungkan kru yang sedang mengendalikan pesawat di tengah kegelapan malam.
Turis India Dijambret Saat Hendak ke Kuil di Menteng, Samsung S25 Senilai Rp 18,6 Juta Raib

Pihak pengontrol lalu lintas udara sempat mengonfirmasi bahwa posisi pesawat berada pada ketinggian 9.700 kaki berdasarkan data di layar radar mereka. Informasi tersebut nyatanya keliru. Pantauan radar menara pengawas merujuk langsung pada data pancaran transponder pesawat yang telah rusak, sehingga petugas darat maupun pilot tidak menyadari bahwa pesawat sebenarnya terus menukik tajam mendekati permukaan air.
Tanpa menyadari ketinggian yang sebenarnya, pesawat menghantam permukaan laut dengan kecepatan 250 knot di perairan lepas pantai Chancay, Lima. Setelah benturan awal tersebut, pesawat sempat terangkat naik darurat hingga ketinggian 300 kaki sebelum akhirnya terbalik dan jatuh sepenuhnya ke dalam laut.
Kerasnya benturan dengan air menewaskan seluruh 70 orang di dalam pesawat, yang terdiri dari 61 penumpang serta 9 awak pesawat (2 pilot dan 7 kru kabin).
Dikejar Gerombolan Matel, Sejoli di Bogor Ngadu ke Layanan 110 Polisi

Hasil investigasi resmi oleh Komite Penyelidikan Kecelakaan (Accident Investigation Board) mengungkap bahwa malafungsi instrumen bermula dari keteledoran staf pemeliharaan di darat yang diperparah oleh salah tafsir kru kokpit. Sebelum terbang, pesawat menjalani perawatan dan pemolesan bodi. Staf teknisi menempelkan selotip pelindung (masking tape) untuk menutup tiga lubang statis (static ports) di sisi kiri badan pesawat agar tidak kemasukan material asing, namun lupa melepasnya kembali setelah pekerjaan selesai.
Akibat lubang statis yang tertutup selotip tersebut, komputer data udara (Air Data Computers) tidak mampu membaca tekanan udara luar dengan benar. Kegagalan sensor ini memicu kekacauan fatal pada seluruh instrumen penting, mulai dari pembacaan ketinggian, kecepatan vertikal, hingga kecepatan udara pesawat.






