Upaya perlindungan terhadap warisan sejarah di wilayah Palestina kini memasuki babak baru yang lebih strategis. Pemerintah Palestina, melalui Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan, secara aktif memperkuat pengawasan terhadap berbagai situs arkeologi yang tersebar di wilayahnya. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap berbagai ancaman eksternal yang terus membayangi keberadaan peninggalan bersejarah tersebut. Fokus utama dari gerakan penyelamatan ini diarahkan pada objek-objek sejarah yang menghadapi ancaman nyata dari pihak pendudukan Israel serta teror yang dilakukan oleh para pemukim zionis. Perlindungan ini bukan sekadar upaya pelestarian budaya biasa, melainkan sebuah langkah pertahanan identitas nasional yang sangat krusial bagi masa depan Palestina.
Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina, Hani Al-Hayek, memimpin langsung peninjauan ke sejumlah titik bersejarah penting pada hari Sabtu (8/8). Kunjungan lapangan ini berpusat di Kegubernuran Hebron, sebuah kawasan yang kaya akan nilai sejarah namun rentan terhadap tekanan pendudukan. Secara spesifik, Al-Hayek mendatangi beberapa kota kunci seperti Al-Karmel, Yatta, dan Beit 'Amra. Di lokasi-lokasi tersebut, ia memeriksa secara langsung kondisi fisik serta mengidentifikasi berbagai kebutuhan mendesak yang diperlukan untuk menyelamatkan situs-situs bersejarah seperti Qasr Al-Karmil, Qisarya, Khirbet Umm Al-Amad, dan Khirbet Beit 'Amra. Penilaian langsung di lapangan ini menjadi dasar bagi penyusunan langkah-langkah darurat yang akan diambil oleh kementerian.








