Berita Viral Terkini
BerandaHukumPolitikEkonomiBisnisPeristiwaNasionalInternasionalOlahragaOtomotifTeknologiHiburanBeritaPopuler
Beranda/Nasional

Syarat Utama agar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mencapai 8 Persen

Uria KilaDiterbitkan 10 Agu 2026 - 09.40 路 0 Dibaca
Bagikan WhatsAppX
Syarat Utama agar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Mencapai 8 Persen
Foto/Ilustrasi: finance.detik.com.
A-A+

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi kerap menjadi perbincangan hangat di kalangan pengambil kebijakan dan pelaku usaha. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi nasional masih tertahan di kisaran 5 persen. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini memberikan catatan kritis mengenai situasi ini. Melalui keterangan tertulis pada Minggu (9/8/2026), Didik mengungkapkan bahwa lambatnya akselerasi ini disebabkan oleh arah kebijakan ekonomi

Berita Viral Terkini

Copyright 2026 Berita Viral Terkini - All Rights Reserved.

Kategori

HukumPolitikEkonomiBisnisPeristiwaNasionalInternasionalOlahragaOtomotifTeknologiHiburanBerita

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Penyangkalan
  • Syarat dan Ketentuan
  • Kebijakan Editorial
  • Digital Millennium Copyright Act - DMCA
  • Sitemap
Indonesia yang dinilai terlalu berorientasi ke dalam negeri atau inward-looking, sementara sektor luar negeri justru terabaikan.

Apabila model kebijakan seperti ini terus dipertahaman, target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan sulit dicapai. Didik menilai bahwa perekonomian Indonesia kemungkinan besar tidak akan mampu menyentuh angka pertumbuhan hingga 8 persen jika kebijakan sektor luar negeri belum ditempatkan sebagai mesin utama untuk mendorong transformasi ekonomi serta industrialisasi. Ketergantungan pada pasar domestik saja tidak lagi cukup untuk mendongkrak kinerja ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi secara berkelanjutan.

Salah satu konsekuensi nyata dari bertahannya pola kebijakan saat ini adalah ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Didik menegaskan bahwa dengan model kebijakan yang diterapkan selama ini, sangat tidak mungkin bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk menyamai pencapaian Vietnam. Negara tersebut telah berhasil mencatatkan laju pertumbuhan ekonomi tahunan yang sangat mengesankan, yakni mencapai angka hingga 8,3 persen. Keberhasilan Vietnam ini tidak lepas dari keberanian mereka dalam mengintegrasikan ekonominya secara agresif dengan pasar global.

Baca Juga

Tantangan Pemadaman Kebakaran Bromo Saat Api Mulai Melompati Lautan Pasir

Tantangan Pemadaman Kebakaran Bromo Saat Api Mulai Melompati Lautan Pasir

Untuk bisa keluar dari jebakan pertumbuhan 5 persen dan mengejar ketertinggalan tersebut, Indonesia dinilai harus melakukan perubahan haluan yang radikal. Syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah mengubah orientasi kebijakan ekonomi dari yang sebelumnya inward-looking menjadi outward-looking atau berorientasi ke luar negeri. Langkah ini diperlukan agar Indonesia bisa menargetkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 7 hingga 8 persen, serupa dengan apa yang telah dibuktikan oleh Vietnam.

Mengapa sektor luar negeri begitu krusial? Menurut Didik, menjadikan sektor luar negeri sebagai motor penggerak utama perekonomian akan memberikan stimulus langsung pada masuknya modal asing. Dengan kebijakan yang lebih terbuka dan ramah terhadap pasar internasional, arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) diharapkan dapat mengalir lebih deras ke dalam negeri. Masuknya FDI ini tidak hanya membawa modal segar, tetapi juga transfer teknologi dan pembukaan lapangan kerja baru yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda industri nasional.

Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa hanya mengandalkan instrumen internal seperti belanja negara untuk memicu pertumbuhan yang tinggi. Didik menyatakan secara tegas bahwa belanja pemerintah tidak dapat diandalkan sebagai tumpuan utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kapasitas anggaran negara memiliki keterbatasan finansial yang nyata, sehingga stimulus dari sektor swasta internasional dan aktivitas ekspor mutlak diperlukan untuk mengisi celah pembiayaan pembangunan dan mendorong ekspansi ekonomi.

Baca Juga

China Resmi Ubah Pulau Hainan Jadi Kawasan Pabean Khusus Senilai Rp2.011 Triliun

China Resmi Ubah Pulau Hainan Jadi Kawasan Pabean Khusus Senilai Rp2.011 Triliun

Penerapan strategi berorientasi ke luar negeri ini sebenarnya bukan hal yang asing bagi sejarah ekonomi Indonesia. Indonesia memiliki rekam jejak atau best practice yang sangat sukses dalam menerapkan strategi outward-looking pada masa lampau, tepatnya pada era tahun 1980-an. Pada dekade tersebut, pemerintah secara aktif mendorong investasi dan memacu perkembangan industri yang berorientasi ekspor. Hasil dari konsistensi kebijakan tersebut sangat signifikan, di mana Indonesia mampu menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kisaran 7 hingga 8 persen yang bertahan selama dua dekade berturut-turut.

Meskipun demikian, transisi kembali menuju kebijakan outward-looking di masa sekarang tentu menghadapi tantangan tersendiri yang berbeda dengan situasi beberapa dekade lalu. Ketidakpastian kondisi ekonomi global, dinamika geopolitik, serta kesiapan industri dalam negeri untuk bersaing di kancah internasional menjadi faktor-faktor pembatas yang harus diperhitungkan dengan cermat. Keberhasilan replikasi strategi masa lalu ini akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah merumuskan kebijakan insentif investasi dan memperkuat daya saing produk ekspor nasional di pasar global saat ini.

Ikuti Berita Viral Terkini

Tambahkan ke sumber pilihan di Google

Topik Terkait

Investasi Asingpertumbuhan ekonomikebijakan ekonomiINDEF

Berita Terbaru Lainnya

Tantangan Pemadaman Kebakaran Bromo Saat Api Mulai Melompati Lautan PasirChina Resmi Ubah Pulau Hainan Jadi Kawasan Pabean Khusus Senilai Rp2.011 TriliunKrisis Energi dan Kelangkaan Bahan Bakar, Kuba Bergantung pada Tenaga Surya ChinaTren Belanja Online Kian Marak, Paket Berbobot Ringan Makin Mendominasi Pengiriman LogistikCapaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Lampaui Target Hingga 118 PersenTransmart Gelar Full Day Sale Hari Minggu Ini dengan Diskon Kasur Mulai Enam Ratus RibuanPertamina Lakukan Investigasi Terkait Kebakaran SPBU Cilendek di Kota BogorTransmart Full Day Sale Hadirkan Promo Tangga Lipat Aluminium Mulai Rp1 Jutaan

Paling Banyak Dibaca

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

Seni Budaya

Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai Daerah

1 Agu 2026

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

Hiburan

Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik Nusantara

3 Agu 2026

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

Teknologi

Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025

25 Jul 2026

Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur Tengah

Internasional

Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur Tengah

27 Jul 2026

Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan Madura

Nasional

Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan Madura

3 Agu 2026

Tantangan Industri Alat Kesehatan Lokal di Tengah Tekanan Biaya Impor dan Pelemahan Rupiah

Nasional

Tantangan Industri Alat Kesehatan Lokal di Tengah Tekanan Biaya Impor dan Pelemahan Rupiah

9 Agu 2026

馃敟

Populer

  1. 1Jadwal Pertunjukan Wayang Kulit Agustus 2026 di Berbagai DaerahSeni Budaya 路 1 Agu 2026
  2. 2Tengku Hadhira Rilis Proyek Musik Visual Hybrid KHORROSSIT Bernuansa Gotik NusantaraHiburan 路 3 Agu 2026
  3. 3Nasib TikTok di Amerika Serikat Menjelang Tenggat Waktu Divestasi 2025Teknologi 路 25 Jul 2026
  4. 4Jeda Serangan Amerika Serikat Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Timur TengahInternasional 路 27 Jul 2026
  5. 5Menko AHY Desak Investigasi Menyeluruh atas Kebakaran KM Mutiara Sentosa di Perairan MaduraNasional 路 3 Agu 2026