Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Gunung Bromo selama lebih dari sepekan terakhir belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kobaran api yang awalnya terlokalisasi kini dilaporkan terus bergerak mendekati padang savana, sebuah bentang alam ikonik yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Fenomena yang paling mencemaskan dalam peristiwa kali ini adalah kemampuan api untuk melompati Lautan Pasir. Padahal, bentangan pasir yang luas tersebut secara teori berfungsi sebagai sekat alami yang seharusnya efektif menghalau dan menghentikan laju penyebaran api ke area lain.
Menanggapi situasi kritis ini, Daryono yang merupakan anggota dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) memaparkan analisisnya mengenai faktor-faktor yang mempersulit pengendalian kebakaran. Menurut penjelasannya, terdapat tiga faktor utama yang menjadi biang kerok di balik cepatnya penyebaran api di Bromo. Faktor pertama adalah kombinasi cuaca panas ekstrem yang melanda kawasan tersebut, yang secara langsung membuat vegetasi di sekitar gunung kehilangan kelembapan dan menjadi sangat kering. Kondisi vegetasi yang kering ini membuat tanaman sangat rentan tersulut api bahkan oleh percikan kecil sekalipun.








