Setelah mengalami gempuran militer selama 13 hari beruntun, situasi di wilayah Iran mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dalam dua hari terakhir. Berhentinya serangan dari pihak Amerika Serikat memberikan ruang bagi warga di ibu kota Teheran untuk kembali bernapas lega. Aktivitas harian masyarakat yang sebelumnya terhenti kini berangsur normal. Arus lalu lintas di jalanan ibu kota kembali padat, sementara berbagai pertokoan mulai beroperasi secara penuh. Suasana mencekam yang diwarnai suara ledakan pada hari-hari sebelumnya kini tidak lagi terdengar, menandai jeda dari eskalasi bersenjata yang membekap kawasan tersebut.
Merespons perubahan situasi di lapangan, otoritas militer Iran secara resmi menangguhkan operasi balasan mereka terhadap Washington. Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengonfirmasi bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menghentikan serangan. Berbicara melalui kantor berita AFP pada Senin (27/7), Akraminia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil menyusul berhentinya serangan udara maupun darat dari pihak lawan. Ia menegaskan bahwa strategi utama Teheran pada dasarnya adalah pembalasan. Oleh karena itu, ketika Amerika Serikat menghentikan gempuran mereka selama dua malam terakhir, pasukan Iran pun mengambil keputusan serupa dengan menghentikan operasi pembalasan.
Dari pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mulai memberikan indikasi mengenai kemungkinan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Saat memberikan keterangan kepada awak media pada Jumat lalu, Trump menyatakan bahwa dirinya belum mengambil keputusan final mengenai kelanjutan operasi militer skala besar. Ia juga mengisyaratkan adanya komunikasi di balik layar yang sedang berjalan antara kedua belah pihak. Trump menilai pihak Teheran mulai menunjukkan keseriusan dalam pembicaraan tersebut. Sinyal ini diperkuat oleh fakta bahwa Trump sengaja menunda serangan ke Iran selama dua malam beruntun untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi yang berkaitan dengan ketegangan di Selat Hormuz.
Kebakaran TPA Galuga Bogor, KLH Pasang Sistem Monitoring Kualitas Udara

Kendati ada harapan untuk berdialog, Washington tetap mempertahankan postur kesiapan militernya. Utusan Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, membenarkan bahwa pemerintahan Trump masih memberi ruang bagi upaya diplomatik. Namun, Waltz memberikan catatan tegas bahwa kewaspadaan militer sama sekali tidak diturunkan. Ia memastikan seluruh pasukan Amerika Serikat tetap dalam kondisi siaga penuh dan siap untuk kembali melanjutkan operasi militer kapan saja apabila situasi menuntut hal tersebut.
Sebelum jeda pertempuran ini terwujud, kedua negara sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan konflik. Namun, kesepakatan itu kandas ketika Amerika Serikat melancarkan rangkaian serangan selama hampir dua pekan ke berbagai wilayah Iran. Gempuran tersebut dilaporkan mengenai sejumlah infrastruktur sipil, termasuk fasilitas air dan jembatan kereta api. Sebagai bentuk perlawanan, Iran membalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, dan Bahrain, serta menyerang armada Washington yang beroperasi di perairan Laut Oman.
Jelang Asian Games 2026, Dukungan untuk Atlet Indonesia Diperkuat

Di tengah pertimbangan Trump untuk meningkatkan intensitas serangan, muncul kekhawatiran dari internal pemerintahan Amerika Serikat. Wakil Presiden JD Vance bersama Jenderal Dan Caine menyuarakan kekhawatiran terkait kondisi stok amunisi militer mereka. Dinamika di kawasan juga diwarnai oleh terungkapnya rekaman dokumenter karya Alex Holder. Rekaman itu memperlihatkan bahwa Lindsey Graham sempat membujuk Trump untuk menyerang Hizbullah, sebelum akhirnya dilarang oleh Benjamin Netanyahu.
Sementara itu, Teheran tetap menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi tekanan. Militer Iran menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa oleh Perdana Menteri Irak. Mereka juga melontarkan ancaman untuk menyerang Tel Aviv jika Trump memutuskan kembali melancarkan serangan udara. Pihak militer Iran menyebut situasi Amerika Serikat saat ini sedang kacau dan tidak menguntungkan di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Otoritas Iran turut memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas jika Washington terus melanjutkan serangan, sebuah peringatan yang bertepatan dengan rencana pertemuan antara Netanyahu dan Donald Trump.






