Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Soesatyo mendorong kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Provinsi Jiangxi, Tiongkok, bertransformasi dari sekadar transaksi perdagangan menjadi kerja sama industrialisasi dan pembentukan basis produksi di tanah air.
Pesan tersebut disampaikan Bamsoet dalam perhelatan 10th Anniversary and International Business Gala Dinner yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengusaha Jiangxi Indonesia di Jakarta, Sabtu (12/9). Ia menilai peringatan satu dekade relasi antarpengusaha kedua wilayah harus menjadi momentum pergeseran orientasi ekonomi yang lebih berorientasi jangka panjang.
Langkah ini didorong oleh dinamika neraca perdagangan bilateral. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok tercatat sekitar US$ 67,04 miliar, sedangkan nilai impor produk dari Tiongkok mencapai US$ 87,54 miliar. Situasi tersebut menghasilkan defisit neraca perdagangan sekitar US$ 20,50 miliar bagi pihak Indonesia.
Tuntutan Penjara Seumur Hidup untuk WN Irak Pembunuh Cucu Mpok Nori

Menyikapi ketimpangan dagang tersebut, Bamsoet menegaskan bahwa pola hubungan ekonomi perlu diubah dari skema penjualan sepihak menjadi produksi bersama. Orientasi kerja sama diarahkan dari "China sells to Indonesia" menuju "China and Indonesia produce together in Indonesia", sehingga Indonesia berperan sebagai basis produksi manufaktur, bukan semata-mata pasar konsumsi.
Saat ini, cakupan relasi bilateral Indonesia-Tiongkok kian meluas melampaui perdagangan barang konvensional, merambah sektor investasi, infrastruktur, teknologi, ekonomi digital, hingga ekosistem kendaraan listrik. Provinsi Jiangxi dinilai memiliki keunggulan strategis karena memiliki basis industri yang mapan, kapabilitas di sektor konstruksi, serta ketangguhan manufaktur dan pengelolaan material peralatan industri.
17 Tahun Indonesia Eximbank (LPEI) Dorong Ekspor Nasional

Sinergi kedua pihak memiliki peluang besar di sektor rantai pasok global. Indonesia memegang peranan krusial dalam ketersediaan nikel dunia, sementara Jiangxi memiliki keahlian perakitan komponen kendaraan masa depan. Bamsoet menekankan bahwa seluruh arus investasi yang masuk harus bertumpu pada sejumlah prinsip pokok, yakni keuntungan bersama (mutual benefit), kepatuhan hukum (rule of law), penciptaan nilai tambah lokal (local value creation), pembangunan berkelanjutan (sustainable development), serta kesejahteraan bersama (shared prosperity).






