Aktivitas perdagangan instrumen pasar modal di Bursa Efek Indonesia pada hari Jumat, 21 Agustus 2026, mencatatkan momentum penguatan yang sangat meyakinkan hingga penutupan perdagangan sesi pertama. Berdasarkan rekapitulasi data perdagangan bursa tepat pada pukul 11.30 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat dan bertengger di level 6.535,57. Posisi ini merefleksikan kenaikan sebesar 34 poin atau setara dengan penguatan 0,52 persen apabila dikomparasikan secara langsung dengan posisi penutupan pada hari bursa sebelumnya yang berada pada level 6.501,59.
Pergerakan indeks saham gabungan sejak awal pembukaan perdagangan memang telah memperlihatkan tren apresiasi yang konsisten. Pada saat bel pembukaan dibunyikan, IHSG tercatat dibuka pada level 6.524,07. Tak berselang lama setelah perdagangan dimulai, laju IHSG melesat ke zona hijau dan sempat menyentuh titik tertinggi hariannya di level 6.544 pada awal sesi perdagangan. Penguatan yang bertahan kokoh hingga jeda makan siang ini tidak lepas dari besarnya minat beli para pelaku pasar, terutama investor luar negeri yang melakukan akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar.
Aliran modal asing yang masuk ke pasar saham domestik menjadi salah satu pemicu utama yang menggerakkan indeks komposit. Berdasarkan kompilasi data dari Stockbit Sekuritas, investor asing tercatat membukukan aksi beli bersih atau net foreign buy mencapai Rp362,65 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I. Aksi beli bersih investor mancanegara tersebut memberikan suntikan likuiditas yang signifikan, dengan fokus perburuan dana tertuju secara masif pada saham-saham perbankan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pergerakan Indeks Saham Gabungan dan Dinamika Sesi Pertama
Perjalanan pergerakan IHSG hingga jeda siang pada Jumat, 21 Agustus 2026, mencerminkan adanya ketahanan pasar yang cukup solid. Mengawali sesi di level 6.524,07, pergerakan indeks langsung memperlihatkan respons positif dari para pelaku pasar. Kenaikan awal yang membimbing indeks mencapai posisi puncaknya di 6.544 memperlihatkan dorongan beli yang cukup intensif sejak menit-menit pertama perdagangan berlangsung.
Kendati sempat mengalami dinamika pergerakan setelah menyentuh level tertinggi 6.544, IHSG tetap mampu menjaga ritme penguatannya di atas level penutupan hari sebelumnya di 6.501,59. Hingga bel tanda jeda siang berbunyi pada pukul 11.30 WIB, indeks komposit berhasil mengunci posisinya di level 6.535,57, yang berarti mengalami kenaikan 34 poin atau 0,52 persen. Stabilitas posisi IHSG ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang muncul di pasar dapat diimbangi dengan baik oleh akumulasi beli yang terjadi di berbagai sektor penting.
Kinerja IHSG yang mampu bertahan di zona hijau ini memberikan sinyal positif bagi para pelaku pasar domestik maupun internasional. Kenaikan 34 poin dari penutupan sebelumnya mengonfirmasi adanya kesinambungan minat beli, di mana aksi beli bersih asing sebesar Rp362,65 miliar turut menjaga tren penguatan indeks tetap terjaga hingga akhir sesi pertama perdagangan.
Likuiditas Pasar dan Keluasan Pergerakan Saham Domestik
Aktivitas transaksi perdagangan pada paruh pertama hari Jumat, 21 Agustus 2026, berlangsung sangat ramai dengan volume transaksi yang masif. Data perdagangan BEI mencatat bahwa nilai transaksi bursa hingga jeda istirahat siang telah menyentuh angka Rp8,96 triliun. Angka perputaran nilai transaksi tersebut tercipta melalui pertukaran volume saham yang mencapai 26,65 miliar lembar saham yang terangkum dalam frekuensi perdagangan sebanyak 1,35 juta kali transaksi.
Ditinjau dari keluasan pasar atau market breadth, mayoritas saham yang tercatat di bursa berhasil mencatatkan penguatan harga. Tercatat sebanyak 320 saham bergerak menguat di zona hijau, sementara 268 saham mengalami pelemahan atau terkoreksi, dan sebanyak 196 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau berada pada posisi stagnan. Dominasi 320 saham yang menguat dibanding 268 saham yang melemah mencerminkan optimisme yang tersebar di lantai bursa.
Keberadaan 196 saham yang stagnan di tengah total frekuensi 1,35 juta transaksi dan volume perdagangan 26,65 miliar saham menunjukkan bahwa konsentrasi likuiditas pasar terdistribusi secara aktif pada saham-saham penggerak utama. Tingginya perputaran nilai yang mencapai Rp8,96 triliun dalam satu sesi perdagangan menandakan tingginya partisipasi pasar yang didukung oleh likuiditas domestik maupun aliran dana asing.
Sektor Penopang Penguatan IHSG di Sesi I
Apresiasi IHSG hingga mencapai level 6.535,57 tidak lepas dari kinerja positif yang ditunjukkan oleh sejumlah sektor industri di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan sesi pertama hari Jumat, 21 Agustus 2026, sektor utilitas, sektor finansial, serta sektor konsumer primer tampil menjadi kelompok industri dengan kinerja paling unggul dengan mencatatkan penguatan terbesar di lantai bursa.
Buruh Mogok! Produksi Hyundai Terancam & Penjualan Hilang Rp30 T

Sektor finansial memainkan peran yang sangat krusial dalam menopang pergerakan indeks komposit. Kehadiran emiten-emiten perbankan dengan bobot kapitalisasi pasar yang besar memberikan daya dorong signifikan terhadap IHSG. Ketika sektor finansial bergerak menguat bersama sektor utilitas dan konsumer primer, laju IHSG memperoleh momentum yang kuat untuk terus bertahan di zona hijau dan menjauhi level penutupan sebelumnya di 6.501,59.
Sinergi antara penguatan sektor utilitas, sektor finansial, dan sektor konsumer primer mampu meredam dampak dari koreksi yang melanda 268 saham lainnya. Kinerja ketiga sektor ini menjadi motor penggerak yang memastikan IHSG tetap berada pada jalur penguatan dengan kenaikan 34 poin pada penutupan sesi pertama pukul 11.30 WIB.
Kinerja Saham Perbankan BUMN sebagai Jangkar Utama
Di dalam sektor finansial yang mencatatkan penguatan terbesar, saham-saham perbankan milik BUMN menunjukkan performa yang sangat dominan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tampil sebagai jangkar dan penopang utama laju pergerakan IHSG pada sesi I perdagangan hari Jumat, 21 Agustus 2026. Harga saham BBRI melonjak signifikan sebesar 2,55 persen hingga mencapai posisi harga Rp3.220 per lembar saham.
Penguatan tajam saham BBRI sebesar 2,55 persen menuju level Rp3.220 per lembar saham tersebut memberikan kontribusi bobot poin yang sangat substansial bagi IHSG. Sebagai salah satu emiten perbankan terbesar, lonjakan harga saham BBRI secara langsung mengangkat posisi indeks gabungan dan mengamankan posisinya di atas level pembukaan 6.524,07.
Selain BBRI, pergerakan positif IHSG juga didukung secara berkesinambungan oleh emiten bank BUMN terkemuka lainnya. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turut menyusul langkah BBRI dalam menopang IHSG. Kenaikan pada saham BBRI yang disusul oleh BMRI dan BBNI menjadikan kelompok perbankan pelat merah sebagai pilar utama penguatan pasar saham pada paruh pertama perdagangan hari tersebut.
Struktur Transaksi dan Rincian Arus Modal Asing
Keterlibatan pemodal internasional dalam perdagangan sesi pertama Jumat, 21 Agustus 2026, memiliki porsi yang sangat besar terhadap total nilai perdagangan bursa. Dari keseluruhan nilai transaksi pasar yang mencapai Rp8,96 triliun, total nilai transaksi yang melibatkan investor asing tercatat mencapai Rp4,42 triliun. Angka ini memperlihatkan bahwa hampir separuh dari aktivitas transaksi di bursa melibatkan investor luar negeri.
Struktur transaksi investor asing sebesar Rp4,42 triliun tersebut terbagi secara terperinci menjadi transaksi beli dan transaksi jual. Nilai pembelian saham yang dilakukan oleh investor asing (foreign buy) tercatat mencapai Rp2,39 triliun. Di sisi lain, nilai penjualan saham yang dilakukan oleh pemodal asing (foreign sell) tercatat sebesar Rp2,03 triliun.
Perbandingan antara foreign buy sebesar Rp2,39 triliun dan foreign sell sebesar Rp2,03 triliun tersebut menghasilkan nilai beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp362,65 miliar di seluruh pasar (all market). Data yang dirilis oleh Stockbit Sekuritas ini menegaskan bahwa pada sesi I, minat beli pemodal asing lebih dominan dibandingkan tekanan jual yang mereka lakukan, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas IHSG yang berakhir di level 6.535,57.
Daftar Emiten Penerima Beli Bersih Asing Terbesar
Aliran dana beli bersih investor asing sebesar Rp362,65 miliar terkonsentrasi secara kuat pada beberapa saham unggulan, dengan saham perbankan BUMN menjadi target utama perburuan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati urutan teratas sebagai saham yang paling banyak diborong oleh pemodal luar negeri. Berdasarkan data perdagangan sesi I, nilai net buy asing pada saham BBRI mencapai angka fantastis yaitu Rp379,24 miliar.
Di urutan kedua saham yang menjadi sasaran beli bersih asing adalah PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Saham emiten perbankan swasta ini membukukan nilai net foreign buy sebesar Rp99,35 miliar. Peringkat ketiga ditempati oleh emiten sektor petrokimia dan energi, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), yang mengantongi aksi beli bersih asing dengan nilai mencapai Rp94,31 miliar.
Jepang Dilanda Inflasi Tertinggi Tahun Ini, Harga Energi Menggila

Arus beli pemodal internasional juga mengalir deras ke saham-saham perbankan BUMN dan emiten lainnya dengan rincian nilai transaksi sebagai berikut:
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berhasil mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp86,28 miliar.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan nilai net buy asing mencapai Rp50,96 miliar.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) turut mencatat aksi beli bersih investor asing senilai Rp19,82 miliar.
Masuknya dana asing pada BBNI sebesar Rp86,28 miliar dan BMRI senilai Rp50,96 miliar semakin melengkapi perburuan asing pada BBRI yang mencapai Rp379,24 miliar. Kombinasi akumulasi beli pada saham BBRI, BBCA, TPIA, BBNI, BMRI, dan DSSA menjadi fondasi utama yang menyokong penguatan indeks komposit pada sesi I.
Daftar Emiten yang Mengalami Tekanan Jual Bersih Asing
Di tengah aksi beli bersih asing yang mencapai Rp362,65 miliar secara keseluruhan, pemodal luar negeri juga tercatat melakukan aksi pelepasan saham atau net foreign sell pada beberapa emiten tertentu. Tekanan jual asing pada sesi pertama Jumat, 21 Agustus 2026, terutama menyasar saham-saham di sektor mineral, komoditas energi, telekomunikasi, dan konglomerasi.
Aksi jual bersih asing paling besar dialami oleh emiten tambang tembaga dan emas, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN). Data perdagangan menunjukkan bahwa nilai net sell asing pada saham AMMN mencapai Rp43,27 miliar. Posisi kedua saham yang paling banyak dilepas asing ditempati oleh emiten tambang mineral lainnya, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dengan nilai penjualan bersih asing mencapai Rp40,47 miliar.
Selain AMMN dan BRMS, tekanan jual bersih oleh pemodal luar negeri pada sesi I juga tercatat pada jajaran emiten berikut:
- PT Indosat Tbk. (ISAT) mencatatkan aksi jual bersih asing dengan nilai sebesar Rp27,04 miliar.
- PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) membukukan nilai pelepasan bersih oleh investor asing sebesar Rp26,09 miliar.
- PT Coinbase Global Depositary Receipt (COIN) mengalami net foreign sell senilai Rp19,21 miliar.
- PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan nilai jual bersih asing sebesar Rp17,88 miliar.
Aksi jual bersih pemodal asing pada saham-saham seperti AMMN, BRMS, ISAT, BUMI, COIN, dan ASII memperlihatkan adanya rotasi portofolio yang dilakukan oleh investor mancanegara. Meski terjadi pelepasan aset pada emiten-emiten tersebut, akumulasi beli yang masif pada sektor finansial berhasil menjaga total neraca transaksi asing tetap berada dalam posisi surplus beli bersih.
Kesimpulan Perdagangan Saham Sesi I
Rangkuman perdagangan sesi pertama di Bursa Efek Indonesia pada Jumat, 21 Agustus 2026, menunjukkan kinerja pasar modal yang menguat secara terukur. Kenaikan IHSG sebesar 34 poin atau 0,52 persen ke posisi 6.535,57 dari penutupan sebelumnya di 6.501,59 didorong oleh pergerakan positif 320 saham, likuiditas transaksi sebesar Rp8,96 triliun, dan volume perdagangan 26,65 miliar saham melalui 1,35 juta kali transaksi.
Sektor utilitas, finansial, dan konsumer primer memimpin laju penguatan bursa, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) tampil sebagai penopang utama IHSG melalui lonjakan harga sebesar 2,55 persen ke level Rp3.220 per saham, yang disusul oleh BMRI dan BBNI. Di saat yang sama, minat pemodal internasional terbukti sangat tinggi dengan total transaksi asing mencapai Rp4,42 triliun yang menghasilkan net foreign buy sebesar Rp362,65 miliar (foreign buy Rp2,39 triliun vs foreign sell Rp2,03 triliun).
Akumulasi beli bersih asing yang terkonsentrasi pada BBRI (Rp379,24 miliar), BBCA (Rp99,35 miliar), TPIA (Rp94,31 miliar), BBNI (Rp86,28 miliar), BMRI (Rp50,96 miliar), dan DSSA (Rp19,82 miliar) mampu melampaui tekanan jual bersih asing pada saham AMMN (Rp43,27 miliar), BRMS (Rp40,47 miliar), ISAT (Rp27,04 miliar), BUMI (Rp26,09 miliar), COIN (Rp19,21 miliar), dan ASII (Rp17,88 miliar), sehingga mengunci posisi IHSG di zona penguatan hingga jeda perdagangan sesi pertama.






