Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data penanganan dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Jumat (28/8), jumlah korban meninggal dunia tercatat bertambah menjadi 111 jiwa.
Sebaran korban meninggal terbanyak terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai dengan 45 jiwa, disusul Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 38 jiwa, dan Kabupaten Nagekeo dengan 13 jiwa. Berdasarkan profil data korban, proporsi perempuan mencapai 56,4 persen dan laki-laki 43,6 persen. Dilihat dari kelompok umur, korban didominasi oleh lansia sebesar 45 persen dan usia dewasa sebesar 37 persen.
Kebakaran di RS Saiful Anwar Malang, 19 Pasien Dievakuasi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa aktivitas seismik di wilayah tersebut masih berlangsung aktif sejak gempa utama berkekuatan M 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026. Hingga kini, BMKG mencatat 8.794 kali gempa susulan dengan rentang magnitudo 1,0 hingga 6,2, di mana 152 gempa di antaranya dirasakan nyata oleh masyarakat. Para ahli seismik memperkirakan rangkaian gempa susulan masih akan terus terjadi selama 3 hingga 4 pekan sejak gempa utama.
Hingga saat ini, akumulasi total warga yang mengungsi di wilayah NTT mencapai 175.909 jiwa. Meski demikian, pergerakan warga mulai terlihat di sejumlah titik, seperti di Kabupaten Sikka dengan 712 pengungsi yang telah kembali ke rumah masing-masing. Di lapangan, petugas gabungan terus melakukan penanganan, termasuk personel kepolisian di Manggarai Barat yang tetap bertugas membantu warga terdampak kendati keluarga mereka sendiri turut mengungsi.
11 Korban Kebakaran di Paniai Teridentifikasi, Polisi Selidiki Dugaan Sabotase

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah meninjau langsung kondisi penanganan darurat dan menyapa para pengungsi di Lapangan Berdikari, Nagekeo, NTT.






