Kekeringan panjang yang melanda wilayah Jawa Tengah memaksa sejumlah petani di Desa Ujungmanik, Cilacap, mencari cara lain untuk bertahan hidup. Lahan pertanian yang mengering dan tidak dapat digunakan lagi untuk bercocok tanam membuat warga beralih memanfaatkan lahan mereka dengan mendongkel bongkahan tanah atau lungka untuk diperjualbelikan.
Alternatif Pendapatan Akibat Gagal Panen
Kondisi lahan yang mengering membuat aktivitas penanaman komoditas pertanian terhenti. Salah seorang petani setempat, Kholiq, mengungkapkan bahwa aktivitas mendongkel bongkahan tanah menjadi sandaran warga untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari di tengah ancaman gagal panen.
"Ya karena kemarau jadi para petani kan di sini dongkel lungka itu buat menunjang keseharian, ya karena tidak bisa ditanami palawija gitu," ujar Kholiq kepada CNN Indonesia TV.
Dugaan Keracunan MBG Dialami Ratusan Siswa di Pati, Kasus Serupa Terjadi di Bantul dan Madiun

Bongkahan tanah yang digali dari lahan persawahan tersebut dijual sebagai tanah uruk yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk membangun rumah. Menurut penuturan Kholiq, satu truk penuh berisi bongkahan tanah dihargai sebesar Rp140.000. Hasil penjualan tanah ini menjadi alternatif sumber penghasilan bagi warga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terutama saat lahan kering memicu kegagalan panen.
Permintaan Tanah Uruk Meningkat
Penjualan bongkahan tanah pertanian ini turut melibatkan jasa pengangkutan lokal. Salah seorang sopir truk, Karsim Siswandi, menjelaskan bahwa tanah uruk banyak diminati oleh pemilik rumah selama musim kemarau karena kondisi tanah bangunan yang cenderung menjadi labil.
"Ini dibeli untuk uruk rumah karena musim kemarau itu tanahnya kan labil kayak gitu jadi diuruk lah ini," ucap Karsim kepada CNN Indonesia TV.
Jaksa KPK Ungkap Ruangan Dirjen Bea Cukai Disegel, Tapi Ada yang Copot

Karsim menambahkan bahwa tingginya kebutuhan urukan membuat sopir truk dapat mengangkut bongkahan tanah hingga lima kali dalam sehari. Pengiriman tanah uruk tersebut dilakukan demi memenuhi permintaan pengerjaan bangunan di berbagai desa sekitar.
Kekeringan yang melanda kawasan Jawa Tengah ini tercatat telah berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Kondisi kering tersebut diprediksi masih akan terus berlangsung hingga penghujung September 2026.






