Menteri Perdagangan Budi Santoso mewanti-wanti pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nasional agar tidak kalah bersaing di tengah serbuan produk asing yang masuk ke pasar domestik. Ia menilai banyak produk luar negeri yang sebenarnya memiliki mutu setara dengan buatan perajin lokal, namun unggul karena ditopang kemampuan pemasaran yang agresif dan anggaran periklanan yang besar.
Peringatan tersebut disampaikan Budi saat membuka agenda Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Untuk melindungi daya saing pelaku usaha domestik, pemerintah kini menggulirkan program Pengamanan Pasar Dalam Negeri guna memperluas akses penjualan bagi UMKM di pasar sendiri sekaligus mendorong penetrasi ke luar negeri.
Di panggung internasional, jangkauan ekspor pelaku usaha didukung oleh 46 perwakilan perdagangan yang terdiri dari Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara. Pemanfaatan jaringan tersebut menunjukkan akselerasi signifikan lewat inisiatif UMKM Bisa Ekspor.
Harga Minyak Dunia Meledak Jebol Level US$100, Tertinggi Sejak Juli

Jika sepanjang tahun lalu nilai transaksi program UMKM Bisa Ekspor berada di angka US$134,8 juta, realisasinya melonjak tajam pada periode Januari hingga Juli 2026 dengan membukukan nilai transaksi hingga US$333 juta. Sebanyak 70 persen dari total peserta program tersebut merupakan pelaku usaha yang belum pernah menjajaki pasar ekspor sebelumnya.
Kendati peluang ekspor terus terbuka, keterbatasan daya jangkau promosi masih menjadi ganjalan utama bagi sebagian besar jenama lokal. Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Meta Indonesia Berni Mustafa mengungkapkan bahwa tantangan mendasar produk UMKM Indonesia di pasar global bukanlah mutu barang, melainkan rendahnya eksposur dan faktor penemuan produk (discoverability).
Sebagai respons atas tantangan promosi tersebut, efisiensi pemasaran digital berbasis kecerdasan buatan mulai diadopsi. Meta memperkenalkan teknologi Meta Business Agent yang berfungsi melayani pertanyaan calon konsumen internasional selama 24 jam penuh dalam sepekan agar potensi transaksi tidak terlewat.
Api Kebakaran Lahan Menjalar ke TPA Galuga, Lebih 42 Ha Terbakar

Pemanfaatan periklanan digital bertarget terbukti mampu menekan biaya operasional pelaku usaha kecil. Jenama busana muslim asal Bandung, Zaya, mencatatkan pesanan abaya dan pakaian senilai Rp1,4 juta dari Malaysia dengan alokasi modal iklan sebesar Rp150.000. Contoh lainnya, produsen jahe instan asal Batam, Abu Jamu, mengalokasikan anggaran iklan Rp135.000 selama tujuh hari untuk menjaring 63.000 tayangan hingga mendatangkan pesanan 60 bungkus produk senilai Rp3 juta dari konsumen Malaysia.
Founder UKMIndonesia.id Dewi Meisari menambahkan bahwa kehadiran integrasi teknologi kecerdasan buatan menjadi kunci penting bagi pelaku usaha kecil untuk memangkas biaya produksi sekaligus mendongkrak efektivitas promosi di pasar yang kian kompetitif.






