Pasukan militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sasaran di wilayah Iran dengan menggempur dua peluncur senjata di Pulau Larak pada hari Minggu. Operasi ini menjadi serangan militer AS pertama yang diketahui menghantam wilayah Iran sejak akhir Juli lalu.
Menurut keterangan seorang pejabat AS, gempuran tersebut dilakukan setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terpantau bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah perairan strategis Selat Hormuz. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengindikasikan bahwa militer AS menggunakan serangan pesawat nirawak (drone) untuk menghancurkan target di pulau tersebut. Kantor berita Fars juga melaporkan warga setempat mendengar rentetan ledakan dahsyat di sekitar kawasan Pulau Larak saat insiden berlangsung.
Putra Netanyahu yang Hidup Mewah di AS Dievakuasi Darurat ke Israel

Departemen Hubungan Masyarakat IRGC di Provinsi Hormozgan Selatan mengonfirmasi adanya serangan tersebut. Pihak IRGC menuduh AS melakukan agresi yang menyebabkan sejumlah tentara dan warga sipil tewas maupun terluka, serta menegaskan sumpah untuk melancarkan serangan balasan yang setimpal.
Ketegangan di perairan Selat Hormuz kian meruncing setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa seluruh ranjau di perairan internasional selat tersebut telah diledakkan atau disingkirkan. Trump juga telah mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal atau perahu yang kedapatan menaruh ranjau baru akan langsung dihancurkan oleh armada AS.
Besok Resmi Ditutup! Ini Penampakan Terakhir Stasiun KRL Karet

Konflik bersenjata antara kedua pihak bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Setelah berlangsung lebih dari enam bulan, perang terbuka ini telah menewaskan 18 tentara AS dan memicu blokade total di Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang sebelumnya menopang sekitar seperlima pasokan konsumsi minyak global.






