Lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 memicu kekhawatiran terhadap pencapaian target iklim Indonesia, khususnya komitmen FOLU Net Sink 2030 yang memproyeksikan penyerapan bersih sebesar 140 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2030.
Catatan Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla sepanjang Januari hingga Juni 2026 telah menembus 107.465,47 hektare. Kalimantan Barat menjadi wilayah terdampak terluas dengan area terbakar mencapai 28.680,47 hektare. Akumulasi luasan ini naik 58.631,66 hektare (120 persen) dibanding periode serupa pada 2019, bertambah 56.383,94 hektare (110 persen) dibanding 2023, serta melonjak 84.387,70 hektare (366 persen) dibanding 2025.
Eskalasi titik api juga meluas ke sejumlah wilayah lain. Hingga 1 September 2026, sebanyak 1.370 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi, terkonsentrasi terutama di Kalimantan Barat (570 titik) dan Kalimantan Tengah (488 titik). Karhutla turut melanda kawasan Bromo, Jawa Timur, seluas 921,42 hektare pada Agustus 2026, serta Sumatra Selatan dengan 781 kejadian yang membakar sekitar 664,87 hektare dari 1 Januari hingga 3 Agustus 2026.
Usai Kebakaran, Masyarakat Bangun Kembali Rumah di Desa Adat Sade

Kerentanan Ekosistem Gambut dan Restorasi Lahan
Kebakaran pada lahan gambut menjadi ancaman serius bagi emisi nasional mengingat besarnya cadangan karbon yang tersimpan. Riset yang dirujuk Forest Digest pada 2021 mencatat ekosistem gambut di Kalimantan dan Papua menyimpan sekitar 57 miliar ton karbon, atau setara 55 persen cadangan karbon gambut tropis dunia. Untuk menjaga kelembapan permukaan, Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 mewajibkan batas tinggi muka air gambut dipertahankan minimal pada angka 40 cm.
Sejumlah upaya pemulihan telah berjalan. Pada 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menginventarisasi 300 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) seluas 15,42 juta hektare, atau 63 persen dari total 24,67 juta hektare KHG. Dari luasan itu, pemulihan hidrologis kawasan konsesi terlaksana pada sekitar 3,9 juta hektare di 73 hutan tanaman industri dan 259 perkebunan kelapa sawit. Proyek kerja sama Indonesia-Korea di Jambi (2020–2024) juga mendirikan 20 sekat kanal serta merehabilitasi 200 hektare vegetasi dengan tingkat keberhasilan 97 persen di 10 desa sekitar.
Pesawat Garuda Pecah Ban, Mendarat Darurat di Bandara Sultan Hasanuddin

Kendati demikian, tantangan mitigasi iklim masih membayangi. Pantau Gambut mencatat sekitar 16 juta hektare KHG di Indonesia masih berada dalam kategori rentan terhadap bencana kebakaran dan banjir, sehingga efektivitas perlindungan gambut tetap menjadi penentu utama ketercapaian target penurunan emisi nasional.






