Ribuan warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan masih memilih bertahan di tenda-tenda darurat pascabencana gempa bumi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto mengungkapkan bahwa tingginya jumlah warga yang mengungsi bukan semata-mata karena dampak langsung kerusakan fisik, melainkan dipicu rasa takut dan trauma terhadap gempa susulan yang berulang.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026). Warga bertahan di pengungsian guna menghindari risiko tertimpa reruntuhan bangunan apabila guncangan besar kembali terjadi.
Kemenkes, 105 Orang Tewas, 1.672 Luka-luka Akibat Gempa di NTT

Berdasarkan data yang dihimpun hingga sehari menjelang laporan, tercatat sebanyak 7.259 aktivitas gempa terdeteksi sejak gempa utama berkekuatan M 7,7 mengguncang pada 15 Agustus lalu. Kendati demikian, Suharyanto menegaskan tidak ada satu pun gempa susulan yang kekuatannya melampaui magnitudo gempa awal, dengan salah satu gempa susulan signifikan tercatat sebesar M 6,2 berdasarkan data BMKG.
Secara umum, frekuensi getaran yang dirasakan masyarakat menunjukkan tren melandai. Jumlah gempa susulan yang terasa turun dari 142 kali menjadi 43 kali per hari.
Prabowo Kunjungi Nagekeo NTT, Wilayah Terparah yang Dilanda Gempa

Selain frekuensi gempa, kepanikan warga turut dipicu oleh maraknya narasi tidak berdasar di media sosial yang menyebutkan adanya potensi gempa susulan yang lebih dahsyat hingga memicu tsunami. Menghadapi situasi ini, BNPB bersama lintas instansi terus melakukan klarifikasi informasi dan pendekatan langsung di lapangan guna meredam kepanikan masyarakat yang terdampak.






