Berita Viral Terkini

Ketika Janji Manis Elon Musk Mulai Ditagih Pasar Saham

Marthen PalutunganPublished 25 Jul 2026 - 07.450 Reads
Bagikan WhatsAppX
Ketika Janji Manis Elon Musk Mulai Ditagih Pasar Saham
Ilustrasi Ekonomi. Foto: CNBC Indonesia - Market.
A-A+

Ketika mimpi-mimpi besar Elon Musk mulai membentur dinding realitas pasar saham, publik disuguhkan pemandangan yang jarang terjadi: sang miliarder harus mempertanggungjawabkan setiap janjinya. Selama bertahun-tahun, Musk berhasil membius pasar dengan visi kolonisasi Mars dan masa depan tanpa pengemudi. Namun kini, para pemegang saham tampaknya mulai lelah hanya membeli janji masa depan tanpa adanya bukti nyata yang konsisten di lembar laporan keuangan.

Sentimen negatif ini paling terasa pada kinerja Tesla. Raksasa mobil listrik ini harus merelakan kapitalisasi pasarnya menyusut sekitar US$215 miliar setelah harga sahamnya anjlok 15 persen dalam sehari perdagangan. Kejatuhan ini dipicu oleh laporan pendapatan yang berada di bawah ekspektasi serta catatan arus kas negatif pertama perusahaan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Kekhawatiran ini kian diperparah oleh sikap skeptis investor terhadap besarnya pengeluaran perusahaan-perusahaan teknologi demi mengejar kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, SpaceX yang baru saja mencicipi lantai bursa juga tidak luput dari tekanan. Setelah sempat terbang tinggi melampaui US$225 dari harga perdana US$135 per saham, nilai saham perusahaan antariksa ini justru melorot hampir setengah dari titik puncaknya. Koreksi tajam ini telah melenyapkan nilai pasar lebih dari US$1 triliun. Mantan eksekutif industri satelit, Samer Halawi, mengingatkan bahwa status baru SpaceX sebagai perusahaan publik membawa konsekuensi besar. Pengawasan terhadap modal kini menjadi sangat ketat, dan investor menuntut hasil nyata yang tidak bisa lagi dijalankan dengan gaya manajemen perusahaan privat yang bebas.

Also Read

Pemerintah Pastikan TNI dan Polri Tidak Memiliki Wewenang Menagih Pajak

Kekecewaan para pendukung setia pun mulai bermunculan ke permukaan. Salah satu influencer Tesla, Dillon Loomis, menyuarakan kritik terbuka di media sosial X terkait kebiasaan Musk yang kerap mengumbar target ambisius namun gagal memenuhinya. Sebagai contoh, proyek Robotaxi yang dijanjikan bakal menguasai hampir setengah wilayah Amerika Serikat pada akhir tahun, nyatanya baru beroperasi di tujuh kota hingga pertengahan tahun ini. Begitu pula dengan demonstrasi robot humanoid Optimus generasi ketiga yang meleset dari target kuartal pertama, serta ketidakpastian lini produksi truk listrik Semi.

Tantangan SpaceX juga tidak kalah berat menjelang berakhirnya masa penguncian saham (lock-up) pada awal Agustus. Momentum ini berpotensi melepas hampir satu miliar saham baru ke pasar, yang berisiko menekan harga saham lebih dalam. Di tengah situasi krusial ini, muncul wacana spekulatif mengenai kemungkinan penggabungan antara Tesla dan SpaceX untuk fokus pada pengembangan AI. Meski Musk mengakui adanya sinergi yang kuat di antara kedua entitas tersebut, ia menegaskan bahwa keputusan besar seperti merger harus melalui proses formal yang panjang dan tidak bisa diputuskan secara instan.

Also Read

Prabowo Minta Purbaya Hitung Ulang Kekuatan APBN Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Walau diterpa badai skeptisisme, valuasi Tesla dan SpaceX sebenarnya masih berada di angka yang fantastis, masing-masing bernilai US$1,26 triliun dan US$1,57 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pasar masih menaruh harapan besar pada kepemimpinan Musk yang visioner. Namun, dinamika pasar saat ini mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa bahkan seorang inovator paling genius sekalipun tidak bisa selamanya menghindari gravitasi hukum ekonomi bumi.

Berita Terbaru Lainnya

Paling Banyak Dibaca