Aktivitas vulkanik di Selat Sunda kembali menjadi sorotan setelah paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan menjangkau wilayah Jakarta hingga ke Jawa Barat pada Minggu pagi, 6 September 2026. Peristiwa sebaran abu ini mengingatkan kembali pada jejak bencana katastropik masa lampau ketika induk gunung tersebut, Gunung Krakatau, meletus dahsyat pada akhir abad ke-19 dan mengubah atmosfer Bumi.
Petaka bersejarah itu bermula pada Minggu, 26 Agustus 1883 pukul 12.53 WIB. Saat itu, letusan menyemburkan awan gas bercampur material vulkanik hingga setinggi 24 kilometer di atas Gunung Perboewatan. Puncaknya terjadi keesokan harinya, Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.02 WIB, saat Krakatau meledak dengan kekuatan luar biasa yang diperkirakan setara dengan 100 megaton bom nuklir atau 13.000 kali kekuatan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Dentuman Terdahsyat dan Gelombang Tsunami
Ledakan pada 27 Agustus 1883 tersebut melemparkan sekitar 45 kilometer kubik material vulkanik ke angkasa, menutupi langit hingga gelap gulita dalam radius 442 kilometer. Suara letusan menggelegar melintasi Samudra Hindia dan terdengar hingga radius lebih dari 4.600 kilometer, mencakup Pulau Rodriguez dan Sri Lanka di barat hingga Perth di Australia bagian timur.
Erupsi Anak Krakatau, BMKG Sebut Peluang Muncul Tsunami di Bawah 40 Persen

The Guinness Book of Records mencatat peristiwa itu sebagai suara paling keras yang pernah terekam dalam sejarah peradaban manusia. Warga yang berada dalam radius 10 kilometer seketika mengalami ketulian. Runtuhnya badan Krakatau ke laut beserta naiknya dasar samudera membangkitkan dinding tsunami setinggi 36,5 meter (120 kaki), sebagaimana diulas publikasi LiveScience.
Penulis buku Krakatoa: The Day the World Exploded, Simon Winchester, mencatat bahwa bencana tersebut tidak hanya melenyapkan pulau beserta penduduknya, melainkan juga melumpuhkan roda perekonomian kolonial yang telah terbangun berabad-abad. Sejumlah catatan memperkirakan korban jiwa mencapai 120.000 orang, dengan kerangka manusia ditemukan mengapung di Samudra Hindia hingga pesisir timur Afrika sampai setahun pascakejadian.
Mengubah Warna Langit dan Menurunkan Suhu Dunia
Gelombang kejut dari dentuman Krakatau terekam oleh instrumen barograf di seluruh penjuru dunia dan mengitari bola bumi hingga tujuh kali. Dampak atmosferik menyusul secara global hanya dalam hitungan pekan.
Depok Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, tapi CFD Tetap Ramai

Data Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan bahwa partikel abu Krakatau yang berukuran 1 mikron menghamburkan cahaya merah di atmosfer. Fenomena optik ini menyebabkan sinar Bulan tampak berwarna biru kehijauan selama bertahun-tahun, sementara Matahari terlihat berwarna keunguan menyerupai lavender. Dalam rentang 13 hari pascaletusan, lapisan sulfur dioksida menyaring sinar matahari dan memicu pemandangan senja yang sangat mencolok di Eropa serta Amerika Serikat.
Lapisan aerosol tersebut turut menekan suhu global rata-rata hingga 1,2 derajat Celsius lebih dingin selama lima tahun. Sekitar empat dekade pascalenyapnya Krakatau, daratan vulkanik baru mulai muncul ke permukaan laut pada 1927, yang kini dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.






