Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengimbau masyarakat dan para pelaku usaha untuk beralih ke moda transportasi alternatif menyusul penutupan sejumlah bandar udara di Indonesia. Langkah ini diambil sebagai respons atas penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berdampak langsung terhadap keselamatan operasional penerbangan.
Peralihan rute dan moda perjalanan ini ditujukan untuk menjaga kelancaran mobilitas warga sekaligus menjamin arus distribusi logistik dan barang tetap berjalan tanpa hambatan selama jalur udara mengalami gangguan operasional.
Mengapa Menhub Mendorong Penggunaan Transportasi Alternatif?
Erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan sebaran abu vulkanik yang membahayakan ruang udara dan aktivitas penerbangan komersial maupun nonkomersial. Untuk mengantisipasi kelumpuhan mobilitas dan hambatan pengiriman logistik, Kementerian Perhubungan menyarankan pemanfaatan moda angkutan darat dan laut sebagai jalur pengganti.
Menhub Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa kereta api, bus, hingga angkutan laut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan dunia usaha. Penggunaan moda transportasi ini memastikan pergerakan orang dan pasokan barang antardaerah tetap terlaksana dengan baik selama bandara-bandara yang terdampak belum dapat beroperasi secara normal.
Penutupan Bandara Soetta Kembali Diperpanjang hingga Pukul 21.30 WIB

Bagaimana Status Operasional Angkutan Laut dan Darat?
Pemerintah memastikan layanan transportasi laut tetap beroperasi secara normal dan belum terdampak oleh sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kondisi ini membuat angkutan kapal laut menjadi salah satu tumpuan utama penyeberangan dan perjalanan jarak jauh selain armada kereta api dan bus antarkota.
Kombinasi angkutan darat dan laut tersebut diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan penumpang yang penerbangannya dibatalkan atau dialihkan, serta menjaga rantai pasok kebutuhan pokok dan barang komersial tetap terdistribusi ke wilayah-wilayah tujuan.
Apa Saja Bandara yang Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik?
Secara keseluruhan, terdapat delapan bandara yang operasionalnya ditutup sementara akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Penutupan ini dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil monitoring dan pengujian keselamatan ruang udara.
35 Ribu Penumpang Terdampak Penutupan Bandara Soetta Akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau

Pada tahap awal, otoritas mencatat lima bandara yang langsung ditutup, yakni Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Pondok Cabe di Jakarta, serta Bandara Budiarto Curug di Tangerang. Selanjutnya, hasil pengujian lanjutan pada pukul 12.00 WIB menunjukkan abu vulkanik telah meluas hingga ke wilayah Jawa Barat, sehingga operasional Bandara Husein Sastranegara di Bandung turut dihentikan sementara.
Secara perinci, berikut daftar delapan bandara yang mengalami penutupan operasional beserta jadwal penutupannya:
- Bandara Soekarno-Hatta (CGK/WIII): Ditutup mulai pukul 02.08 WIB hingga 23.59 WIB.
- Bandara Radin Inten II Lampung (TKG/WILL): Ditutup mulai pukul 04.18 WIB hingga 23.59 WIB.
- Bandara Budiarto Curug (RTO/WIRR): Ditutup mulai pukul 06.48 WIB hingga 7 September 2026 pukul 06.59 WIB.
- Bandara Halim Perdanakusuma (HLP/WIHH): Ditutup mulai pukul 07.20 WIB hingga 23.59 WIB.
- Bandara Pondok Cabe (PCB/WIHP): Ditutup mulai pukul 10.05 WIB hingga 23.59 WIB.
- Bandara Taufik Kiemas (TFY/WILP): Ditutup mulai pukul 11.30 WIB hingga 23.59 WIB.
- Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO/WICC): Ditutup mulai pukul 12.07 WIB hingga 7 September 2026 pukul 06.00 WIB.
- Bandara Atung Bungsu (PXA/WIPY): Ditutup mulai pukul 13.34 WIB hingga 17.00 WIB.






