PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah menyiapkan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas di kawasan Jakarta Pusat sebagai jalur penghubung antarmoda yang dirancang penuh dengan aksesibilitas ramah penyandang disabilitas. Keberadaan fasilitas pejalan kaki ini disiapkan khusus guna mengurai penumpukan serta kepadatan arus mobilitas masyarakat yang selama ini terpusat di Terowongan Kendal. Dengan hadirnya rute penyeberangan baru tersebut, alur perpindahan para pengguna transportasi umum di kawasan Dukuh Atas diharapkan dapat berlangsung lebih tertib dan efisien.
Fasilitas jalur pejalan kaki ini dirancang secara inklusif dengan melengkapi berbagai sarana pendukung bagi seluruh kategori pengguna. Seluruh titik akses masuk menuju pedestrian deck direncanakan memanfaatkan eskalator, sehingga pengguna tidak perlu lagi menaiki tangga secara manual. Sementara itu, untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna kursi roda, masyarakat yang membawa stroller bayi, hingga ibu hamil, pihak MRT Jakarta menyiapkan fasilitas elevator sebagai sarana akses vertikal. Lintasan ini juga dirancang memiliki sarana ramp serta jalur pemandu taktil guna memudahkan pergerakan penyandang disabilitas netra.
Proyek ini menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas. Fasilitas tersebut disiapkan guna memperkuat konektivitas yang menghubungkan enam moda transportasi publik sekaligus, yakni MRT Jakarta, KRL Commuter Line, LRT Jakarta, LRT Jabodebek, Kereta Bandara, dan TransJakarta. Saat momen pencanangan proyek pada bulan Juni lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa infrastruktur ini dirancang secara khusus untuk mewujudkan pergerakan penumpang yang lancar tanpa hambatan atau seamless mobility.
LRT Jabodebek Ingatkan Sejumlah Larangan bagi Penumpang

Terkait kondisi di lapangan, TOD Planning Department Head PT MRT Jakarta, Sagita Devi, menyebutkan bahwa kehadiran pedestrian deck sangat dibutuhkan lantaran Terowongan Kendal sejauh ini masih menjadi akses utama yang menghubungkan empat kuadran kawasan Dukuh Atas. Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan dapat memberikan alternatif jalur sehingga arus pejalan kaki menjadi lebih tersebar. Upaya ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memecah kepadatan dan memberikan opsi perpindahan yang lebih baik bagi para pengguna transportasi.
Ditinjau dari spesifikasi teknis bangunan, Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, memaparkan bahwa lebar jalur utama pedestrian deck direncanakan berkisar antara 4 hingga 5 meter. Penjelasan tersebut disampaikan pada Kamis (30/7) di Transport Hub MRT Jakarta, Jakarta Pusat. Ia menambahkan, di beberapa titik khusus seperti di sisi utara dan selatan kawasan yang menghadap jalan, bentangan jalur akan diperlebar hingga mencapai sekitar 7 meter untuk mencegah hambatan bagi pejalan kaki yang sedang berpindah moda.
Dari sisi kekuatan konstruksi, struktur fisik pedestrian deck dirancang sanggup menahan beban hingga sekitar 500 kilogram per meter persegi. Pihak MRT Jakarta berencana memanfaatkan area jalur yang diperlebar tersebut sebagai ruang bagi masyarakat untuk menikmati suasana kawasan sekitar. Selain itu, di area yang sama juga akan dihadirkan sebuah galeri sejarah yang memuat berbagai informasi mengenai Patung Jenderal Sudirman agar masyarakat mendapatkan wawasan tambahan.
Progres JPO Stasiun Bekasi Capai 70 Persen, Ditargetkan Rampung Desember 2026

Di luar perencanaan fisik jembatan, PT MRT Jakarta juga terus menjajaki potensi integrasi kawasan secara lebih luas. Pihak pengelola membuka peluang agar lintasan pedestrian deck ini dapat tersambung secara langsung dengan sejumlah gedung di sekitar lokasi, seperti Two Sudirman, Landmark, serta Wisma BNI. Koordinasi awal telah dilakukan dengan para pemilik aset, dan desain sejak awal memungkinkan adanya koneksi langsung jika masing-masing pemilik gedung telah siap merealisasikannya.
Beberapa aspek operasional lapangan lainnya juga masih memerlukan pendalaman lebih lanjut. Penyediaan kantong area naik dan turun penumpang untuk layanan transportasi ojek online, misalnya, hingga saat ini dikonfirmasi masih dalam tahap kajian. Pihak MRT Jakarta mendorong para pemilik lahan di sekitar kawasan untuk dapat menyediakan ruang khusus tersebut agar aktivitas penumpang tidak menambah kepadatan di sekitar area pedestrian deck.






