PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah mematangkan rencana revitalisasi kawasan Kota Tua di Jakarta Barat. Proyek penataan ini mengusung pendekatan penataan ruang interaktif (placemaking) yang memadukan aktivitas modern tanpa mengikis nilai sejarah di kawasan cagar budaya tersebut.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta Pranowo menjelaskan bahwa pendekatan revitalisasi Kota Tua akan memiliki perbedaan mendasar dengan apa yang diterapkan di Blok M, Jakarta Selatan. Pijakan utama penataan Kota Tua difokuskan pada penguatan identitas historis setempat.
Karakter warisan sejarah seperti kawasan pecinan (Chinatown) dan peninggalan era kolonial (Little Amsterdam) akan tetap dipertahankan. MRT Jakarta berencana menghidupkan ruang publik di sekitarnya dengan menyisipkan kegiatan komunitas serta area ritel.
Mendag Sebut Produk Asing Kuasai Pasar RI Berkat Iklan, Modal Besar

Melanjutkan Kesuksesan Blok M dengan Karakter Berbeda
MRT Jakarta sebelumnya menerapkan konsep serupa di Blok M, yang hingga kini pelaksanaannya baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan rencana induk. Di kawasan tersebut, MRT mencatat angka kunjungan mencapai 40 ribu orang per hari kerja, 60 ribu hingga 70 ribu orang pada akhir pekan reguler, dan melonjak hingga 80 ribu sampai 90 ribu orang saat ada acara khusus. Penataan itu juga merangkul hampir 500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai penyewa serta mengalihkan juru parkir informal menjadi petugas parkir resmi.
Menurut Samuel, pendekatan placemaking yang diusung bertumpu pada empat pilar utama, yakni akses dan konektivitas, kenyamanan dan citra kawasan, aktivitas dan pengguna, serta penguatan interaksi sosial. Keberhasilan penataan diukur dari volume pengunjung, keaktifan komunitas, kenyamanan ruang, hingga kepuasan pemangku kepentingan.
Terintegrasi Jalur MRT Fase 2A
Rencana revitalisasi Kota Tua terhubung langsung dengan proyek transportasi MRT Fase 2A rute Bundaran HI鈥揔ota Tua. Koridor ini membentang melewati Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, hingga pemberhentian akhir di Kota Tua.
Tembaga dan Kedaulatan Mineral Indonesia, Penguatan Rantai Nilai dari Tambang hingga Hilir

Sebagai bagian dari panduan rancang kota (Urban Design Guideline) koridor Glodok鈥揔ota Tua, MRT Jakarta telah menyiapkan konsep penataan area Pintu Besar Selatan. Rencana tersebut mencakup penyediaan fasad komersial aktif (commercial active frontage), jalur pedestrian yang aman dan ramah pejalan kaki, integrasi transportasi, serta penyediaan fasilitas ruang terbuka hijau dan biru.
Saat ini, rencana pengembangan Kota Tua masih berada dalam tahap perancangan konsep kawasan. Pihak MRT Jakarta belum merinci target jadwal pelaksanaan fisik, estimasi kebutuhan investasi, maupun rincian teknis bangunan yang akan didirikan.






