Pemantauan jangka panjang terhadap ratusan ribu tenaga kesehatan di Amerika Serikat mengungkap kaitan antara asupan minuman manis harian dan potensi gangguan keganasan lambung. Penelitian longitudinal tersebut mencatat bahwa individu yang mengonsumsi lebih dari satu porsi minuman manis setiap hari menghadapi lonjakan risiko kanker lambung hingga 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang meminumnya.
Data tersebut diperoleh dari analisis data kesehatan komprehensif yang melibatkan 112.284 partisipan dari program Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study. Para peserta dipantau selama lebih dari tiga dekade. Sepanjang kurun waktu tersebut, tercatat 278 kasus kanker lambung muncul di antara populasi yang diteliti.
Korelasi Konsumsi Gula dan Fruktosa
Dalam rincian temuan riset, risiko 2,45 kali lipat tersebut ditemukan pada kelompok yang rutin meminum lebih dari satu porsi minuman berpemanis (setara 8 ons atau sekitar 240 mililiter) per hari, jika dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi kurang dari satu porsi per bulan. Satu sajian standar minuman berpemanis ukuran 250 mililiter rata-rata mengandung sekitar 22,8 gram gula.
Kemendagri Percepat Penegasan Batas Desa di 8 Kabupaten Jateng hingga DIY

Peneliti juga menyoroti peran konsumsi fruktosa tinggi dalam peningkatan kejadian kanker lambung. Asupan gula berlebih secara umum telah lama terbukti memicu masalah metabolik kronis, termasuk obesitas dan diabetes melitus tipe 2.
Keterkaitan minuman manis dengan ancaman kanker saluran cerna sejalan dengan laporan ilmiah lain. Publikasi pada jurnal JAMA Network Open sebelumnya menemukan hubungan serupa, yaitu konsumsi minuman manis berpemanis gula berkaitan dengan kenaikan risiko kanker hati, khususnya jenis hepatocellular carcinoma (HCC) dan intrahepatic cholangiocarcinoma (ICC).
Seluruh Bandara InJourney Airports Kembali Beroperasi Penuh Usai Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

Batasan Penelitian dan Faktor Risiko Lain
Kendati data statistik memperlihatkan korelasi kuat, para ahli menggarisbawahi bahwa temuan ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Andrew T. Chan, ahli gastroenterologi sekaligus epidemiolog yang terlibat dalam riset ini, menegaskan sifat penelitian yang berbasis observasional hanya menunjukkan pola asosiasi, bukan kesimpulan kausalitas mutlak bahwa minuman manis menjadi penyebab tunggal kanker lambung.
Di luar faktor asupan nutrisi dan pola makan, diagnosis penyakit lambung dan tukak peptik juga erat kaitannya dengan infeksi bakteri Helicobacter pylori. Untuk mendeteksi keberadaan infeksi bakteri tersebut, fasilitas medis kini lazim memanfaatkan pemeriksaan noninvasif seperti Urea Breath Test (UBT) atau tes napas urea.






