Bagaimana hilirisasi tembaga berkontribusi langsung pada kedaulatan mineral nasional? Penguasaan komoditas strategis ini tidak hanya berfokus pada ekstraksi konsentrat, melainkan pada pemanfaatan rantai nilai terintegrasi di dalam negeri, termasuk pengolahan produk samping menjadi logam bernilai tinggi.
Tembaga memegang peranan krusial bagi berbagai sektor industri, mulai dari infrastruktur kelistrikan, jaringan transmisi, manufaktur elektronik, hingga rantai pasok kendaraan listrik dan pembangkit energi baru terbarukan. Untuk mengamankan kendali atas komoditas penting ini, kepemilikan mayoritas MIND ID di PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi instrumen utama dalam memperkokoh penguasaan sumber daya tembaga nasional.
Pemanfaatan Produk Samping Melalui PMR Gresik
Upaya hilirisasi tembaga kini merambah ke pengolahan mineral ikutan. PTFI mengoperasikan fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik yang bertugas memurnikan anode slime (lumpur anoda), yaitu produk sampingan dari proses pemurnian konsentrat tembaga, menjadi logam mulia. Fasilitas PMR ini dirancang dengan kapasitas produksi mencapai sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun.
Sebelum Beralih ke Mobil Listrik, Konsumen Perlu Coba Langsung

Integrasi rantai pasok antaranggota holding industri pertambangan mulai membuahkan hasil konkret. Pada Februari 2025, PTFI mengirimkan 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99 persen hasil pemurnian PMR kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dengan estimasi nilai sekitar Rp207 miliar. Pengiriman ini merupakan bagian dari kesepakatan kerja sama kedua pihak untuk transaksi pasokan emas hingga 30 ton per tahun.
Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID Selly Adriatika menyatakan bahwa integrasi tersebut merupakan bagian dari strategi korporasi dalam membangun rantai nilai mineral yang saling melengkapi di antara anggota holding.
Mendag Sebut Produk Asing Kuasai Pasar RI Berkat Iklan, Modal Besar

Menjawab Kebutuhan Domestik
Keberadaan fasilitas pemurnian domestik ini memegang peran strategis dalam memenuhi permintaan pasar nasional. Mengacu pada data World Gold Council pada 2025, total konsumsi emas di Indonesia tercatat sebesar 48,2 ton. Angka tersebut mencakup permintaan emas batangan dan koin sebesar 31,6 ton serta kebutuhan emas perhiasan sebesar 16,6 ton. Volume kebutuhan nasional ini mendekati total kapasitas terpasang dari fasilitas produksi emas PMR PTFI.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku industri tersebut, percepatan pemulihan produksi tambang Grasberg dan optimalisasi operasional Smelter PTFI Gresik menjadi faktor krusial. Keduanya berfungsi menentukan kapasitas produksi tembaga nasional sekaligus memperlebar peluang hilirisasi produk turunan agar memberikan nilai tambah ekonomi optimal di dalam negeri.






