JAKARTA — Pemerintah memperketat langkah antisipasi terhadap potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta fenomena El Niño yang berbarengan dengan musim kemarau. Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri dan kepala lembaga ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (28/7) untuk mengoordinasikan kesiapan lintas sektor. Langkah ini diambil seiring laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan bahwa fenomena El Niño saat ini telah masuk dalam kategori kuat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa berdasarkan prediksi BMKG, siklus El Niño diperkirakan terjadi lebih cepat dari proyeksi awal. Mengacu pada riwayat terdahulu, fenomena serupa pernah menerjang Indonesia pada 2015, 2019, dan 2023, sehingga pola perulangan sebelumnya mengarah pada estimasi tahun 2027. Antisipasi dini dinilai sangat krusial mengingat dampak karhutla yang luas, mulai dari masalah kesehatan masyarakat berupa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penutupan fasilitas sekolah dan bandara, hingga penghentian aktivitas di pusat-pusat perekonomian.
PFI Imbau Publik dan Pembuat Konten Tak Sebar Informasi Belum Terverifikasi Terkait Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Guna meminimalkan risiko tersebut, pemerintah menyiapkan strategi komprehensif yang melibatkan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Darat dan Satgas Udara, serta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menuturkan bahwa kewaspadaan tinggi diarahkan ke sejumlah wilayah yang rentan terhadap kemunculan titik api (hotspot). Wilayah rawan karhutla tersebut mencakup Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Dari sisi kesiapan infrastruktur, AHY menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan ketersediaan sumber daya air untuk menghadapi musim kemarau. Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum, kondisi neraca air nasional saat ini dinilai masih memadai dan stok pangan nasional berada dalam posisi aman. Pasokan air bersih, air baku, serta jaringan irigasi dijaga dengan memastikan debit air pada bendungan dan waduk di berbagai daerah tetap mencukupi.
Gempa M 6.2 Guncang Laut Banda Maluku, BMKG, Tidak Berpotensi Tsunami

Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan bahwa indikator El Niño dinyatakan aktif apabila peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik melebihi 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal. Dalam pelaksanaannya, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menggelar OMC secara berkala guna menjenuhkan tanah gambut agar tidak mudah terbakar. Untuk wilayah Jakarta, OMC bersifat situasional saat terjadi hari tanpa hujan dalam durasi panjang, dengan catatan awan masih tersedia. Langkah ini didukung dengan pemasangan ground-based generator di sejumlah gedung tinggi bersama BPBD DKI Jakarta guna menekan penurunan kualitas udara yang biasanya terjadi setelah dua hingga tiga minggu tanpa hujan.






