Rangkaian peristiwa kegempaan dan erupsi simultan empat gunung api di Indonesia pada Rabu (9/9) kembali menegaskan tingginya kerentanan wilayah Cincin Api Pasifik. Pertemuan lempeng aktif serta keberadaan ratusan gunung berapi di tanah air kerap memicu dua jenis lindu utama yang memiliki karakteristik berbeda: gempa tektonik dan gempa vulkanik.
Secara mekanisme, gempa tektonik dipicu oleh pelepasan energi secara mendadak akibat pergeseran lempeng di kerak bumi. Karakteristik ini menjadikannya jenis gempa yang paling umum terjadi di dunia sekaligus pemicu kerusakan masif pada infrastruktur. Ancaman gempa tektonik kian tinggi jika pusat getaran berada di bawah laut karena berpeluang memicu tsunami, atau terjadi di daratan dangkal seperti aktivitas Sesar Sausu berkekuatan M6,7 yang merusak permukiman di Sigi dan Poso, Sulawesi Tengah.
Sebaliknya, gempa vulkanik bersumber dari dinamika fluida di dalam perut bumi. Pergerakan magma yang mendesak batuan sekitar saat naik ke permukaan serta tekanan gas yang tinggi di kantong magma menjadi pemicu getaran ini. Para ahli vulkanologi mengandalkan frekuensi dan kekuatan gempa vulkanik sebagai instrumen pemantauan untuk menetapkan status aktivitas gunung api, mulai dari Level I (Normal) hingga Level IV (Awas).
PFI Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

Menakar Tingkat Bahaya Gempa Tektonik dan Vulkanik
Jika dinilai dari skala guncangan global dan potensi kehancuran fisik bangunan, gempa tektonik tergolong jauh lebih berbahaya. Daya rambat energinya dapat melintasi wilayah yang sangat luas dan merobohkan struktur pemukiman secara tiba-tiba tanpa peringatan awal.
Kendati demikian, gempa vulkanik tidak dapat disepelekan karena berfungsi sebagai sinyal bahaya lanjutan dari ancaman erupsi. Rangkaian gempa vulkanik mengindikasikan adanya potensi letusan yang mematikan, lengkap dengan bahaya awan panas, aliran lava, hujan abu vulkanik, hingga pelepasan gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2).
Kiai di Pati Diduga Cabuli Santriwatinya, Dirayu Pakai Uang, Dilakukan 8 Kali

Pada akhirnya, tingkat keparahan dampak kedua jenis gempa tersebut sangat dipengaruhi oleh kedalaman hiposentrum, jarak episentrum dari kawasan permukiman penduduk, struktur tanah, serta kualitas ketahanan bangunan di wilayah terdampak.






