Aktivitas tektonik di Jawa Barat didorong oleh keberadaan sejumlah patahan darat aktif yang melintasi kawasan permukiman. Dari deretan struktur geologi di Kabupaten Cianjur dan sekitarnya, Sesar Cimandiri dan Sesar Cugenang menjadi dua patahan yang memiliki karakteristik, dimensi, serta dampak risiko berbeda.
Sebelum gempa Cianjur pada 2022, ancaman seismik di wilayah tersebut kerap diidentikkan dengan Sesar Cimandiri. Namun, hasil identifikasi lanjutan memastikan bahwa Sesar Cugenang merupakan patahan mandiri (independent fault) yang posisinya berada di sebelah utara jalur utama Sesar Cimandiri, bukan bagian dari sistem patahan Cimandiri.
Karakteristik dan Mekanisme Pergerakan
Kedua sesar ini memiliki mekanisme pergerakan yang berbeda. Sesar Cimandiri secara umum teridentifikasi sebagai sesar geser (strike-slip) dengan beberapa komponen naik (oblique). Sementara itu, Sesar Cugenang memiliki mekanisme pergerakan geser menganan (right-lateral strike-slip).
5 Kebiasaan Sepele di Dapur Ini Ternyata Bisa Memicu Kebakaran Rumah

Secara dimensi, Sesar Cimandiri membentang jauh lebih panjang, sehingga secara teoritis memiliki potensi magnitudo maksimum yang lebih besar dibandingkan Sesar Cugenang.
Jalur Sesar dan Risiko Kerusakan
Kendati potensi magnitudonya lebih kecil dari Cimandiri, Sesar Cugenang terbukti sangat berbahaya karena lintasannya berada persis di lereng perbukitan padat penduduk. Karakteristik jalur inilah yang menjelaskan mengapa guncangan gempa bumi Cianjur 2022 menimbulkan kerusakan fatal yang sangat terkonsentrasi di area sempit.
Terjadi Lagi Kebakaran TPA yang Berlangsung Berjam-jam

Guna mengantisipasi bahaya di masa depan, BMKG telah menetapkan zona merah atau Zona Terlarang seluas kurang lebih 8,09 kilometer persegi di sepanjang jalur patahan Cugenang. Area tersebut ditetapkan tidak boleh lagi dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman atau bangunan tempat tinggal.






