Bantul — Warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini diberdayakan untuk memproduksi aneka furnitur ramah lingkungan (eco-furniture). Inisiatif ini digulirkan oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui program ekonomi sirkular berbasis masyarakat yang dinamai GO-SARI.
Dalam pelaksanaannya, program GO-SARI mengintegrasikan sumber energi bersih dengan permesinan di fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS 3R) untuk memproses sampah organik maupun anorganik. Pada penanganan limbah anorganik, kelompok masyarakat mengumpulkan tutup botol kemasan plastik untuk dicacah dan dipres hingga menjadi lembaran papan plastik padat. Lembaran papan hasil olahan tersebut kemudian dikirimkan ke rutan untuk dirakit menjadi barang bernilai guna oleh para narapidana.
Sebanyak 30 warga binaan aktif terlibat dalam kegiatan produksi yang telah berlangsung selama dua bulan ini. Narapidana yang dilibatkan mayoritas merupakan tahanan kasus tindak pidana umum, seperti pencurian, yang menunjukkan perilaku baik dan masa hukumannya telah memasuki sekitar setengah hingga dua pertiga masa tahanan.
Toba Pulp Buka Suara usai Jadi Tersangka Korupsi Transfer Pricing

Keahlian pertukangan tersebut menghasilkan berbagai rupa kerajinan dan perabot. Produk yang dihasilkan meliputi gantungan kunci seharga Rp5.000, kotak tisu, hingga rangkaian set meja dan kursi. Produk bernilai paling tinggi berupa satu set furnitur beranggotakan satu meja dan empat kursi, yang dipasarkan pada rentang harga Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta.
Untuk menjangkau pasar, hasil karya warga binaan rutan rutin diikutsertakan dalam berbagai pameran di tingkat daerah, salah satunya ajang Bantul Creative Expo.
Pakar Jelaskan Potensi Ekonomi dan Lingkungan PLTP Gunung Ungaran

Keuntungan dari hasil penjualan produk eco-furniture ini disalurkan dengan skema bagi hasil. Sebesar 50 persen laba dialokasikan sebagai premi langsung bagi para warga binaan yang bekerja, 15 persen disetorkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dan 35 persen sisanya digunakan guna menopang biaya operasional pihak rutan.






