Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Farid Azhar Nasution mengingatkan generasi muda untuk berhati-hati terhadap godaan konsumtif yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI) dan algoritma perangkat digital. Peringatan tersebut disampaikan Farid saat membuka gelaran Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu (5/9/2026).
Farid menyoroti bagaimana teknologi pada gawai pribadi saat ini secara aktif mempelajari preferensi serta kebiasaan para penggunanya. Pola interaksi digital tersebut kemudian dimanfaatkan sistem untuk terus-menerus memunculkan tawaran belanja yang menarik minat belanja impulsif.
"Ingat, algoritma dan artificial intelligence di gadget kita terus belajar tentang apa yang kita sukai, lalu menggoda kita untuk membeli," ujar Farid.
Menghadapi dorongan digital tersebut, Farid menegaskan pentingnya kesadaran penuh dari setiap individu agar tidak terjebak dalam arus konsumerisme. Menurutnya, kendali atas arus keuangan harus tetap berada di tangan pemilik dana, bukan ditentukan oleh dorongan teknologi.
Target Lifting Minyak 2027 Jadi 612.500 Barel per Hari, Mampukah Tercapai?

"Jangan biarkan teknologi mengendalikan keputusan keuangan kita. Kita yang harus tetap memegang kendali," tegasnya.
Tiga Prinsip Pengelolaan Keuangan
Dalam kesempatan tersebut, Farid membagikan tiga pesan utama bagi generasi muda dalam mengelola pendapatan harian dan perencanaan masa depan secara cerdas.
Prinsip pertama menekankan pembiasaan alokasi tabungan sejak awal penerimaan dana. Farid mengimbau anak muda untuk tidak menunggu uang tersisa baru menabung, melainkan langsung menyisihkannya begitu memperoleh penghasilan.
"Biasakan sisihkan, bukan sisakan. Prioritaskan menabung sejak kita terima uang," tuturnya.
Harpelnas 2026, bank bjb Hadirkan Layanan Setara dan Berkelanjutan

Prinsip kedua menyasar pengendalian gaya hidup sehari-hari. Farid berpesan agar anak muda senantiasa berbelanja berdasarkan kebutuhan riil, bukan sekadar menuruti keinginan sesaat yang kerap diperkuat oleh paparan promosi daring.
Sementara pada prinsip ketiga, Farid mengajak generasi muda melengkapi pengelolaan aset finansial dengan membangun tabungan tidak berwujud. Tabungan ini mencakup tiga pilar penting, yakni karakter, ilmu, dan jaringan relasi.
Ia menjelaskan bahwa karakter yang kuat berfungsi sebagai modal spiritual (spiritual capital), ilmu pengetahuan berperan sebagai modal manusia (human capital), dan jejaring relasi yang sehat menjadi modal sosial (social capital) guna mendukung ketahanan hidup jangka panjang.






