Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. Pertemuan ini mempertemukan kepala negara Indonesia tersebut dengan jajaran pemimpin dunia, termasuk Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, serta Perdana Menteri India Narendra Modi selaku pemegang Keketuaan BRICS 2026.
Dalam agenda internasional ini, Presiden Prabowo didampingi langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Forum ini menjadi momentum penting bagi Indonesia setelah resmi bergabung menjadi anggota penuh kelompok BRICS per 1 Januari 2025, menyusul ekspansi sebelumnya pada 2024 yang mengikutsertakan Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Agenda Pertemuan dan Penguatan Multilateralisme
KTT BRICS 2026 mengusung tema besar Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability. Agenda utama KTT dibagi ke dalam dua sesi pembahasan utama. Sesi pertama merupakan pertemuan tertutup (closed session) bagi Negara Anggota BRICS dengan tema Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism. Sementara itu, sesi kedua merupakan forum terbuka (open session) bersama Negara Mitra BRICS bertajuk Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth.
Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pandangan dan sikap pemerintah Indonesia dalam kedua sesi tersebut. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan bahwa pertemuan ini difokuskan pada penataan ulang tata kelola global.
Sudah Punya Ide Usaha tapi Belum Berani Mulai? Yuk Pelajari dari Nol

"Para Pemimpin Negara Anggota (BRICS Member Countries) dan Negara Mitra (BRICS Partner Countries) mendorong upaya menjaga inklusivitas tata kelola global dan memperkuat multilateralisme," kata Susiwijono dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/9/2026).
Isu Perekonomian dan Deretan Pemimpin yang Hadir
Sejumlah isu strategis masuk dalam agenda pembahasan KTT ke-18, mencakup pengembangan kerangka institusional BRICS, perdamaian dan keamanan, digitalisasi dan teknologi, ketahanan pangan dan pertanian, energi, hingga isu perubahan iklim serta lingkungan.
Di sektor perekonomian dan perdagangan internasional, para pemimpin menyoroti reformasi lembaga multilateral seperti WTO, IMF, dan World Bank. Agenda penting lainnya mencakup penguatan kerja sama keuangan melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCS), pembentukan rantai pasok global yang berdaya tahan, serta penegasan komitmen terhadap sistem perdagangan global yang terbuka, inklusif, transparan, dan berbasis aturan.
Pasokan BBM Terus Ditambah Imbas Antrean Mengular di SPBU

KTT di Bharat Mandapam—lokasi yang sebelumnya juga digunakan untuk KTT G20 2023—dihadiri oleh sederet kepala negara dan kepala pemerintahan. Selain Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Prabowo Subianto, pemimpin lain yang terjadwal hadir meliputi Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, PM Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled/Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr., serta Presiden Burundi Evariste Ndayishimiye.
Saat ini, BRICS telah mencakup 49,5 persen dari total populasi dunia, menyumbang 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB/GDP) global, dan merepresentasikan 26 persen nilai perdagangan global. Selain anggota utama, kelompok ini juga merangkul sejumlah negara mitra, di antaranya Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.






