Lapisan debu yang menyelimuti permukaan Bulan terbukti menyimpan rekam jejak ledakan bintang raksasa (supernova) kuno. Ketiadaan atmosfer, cuaca, dan aktivitas lempeng tektonik membuat satelit alami Bumi ini mampu mengawetkan sisa-sisa debu kosmis purba jauh lebih lama daripada rekaman geologis di Bumi.
Saat bintang bermassa besar meledak sebagai supernova, hempasan material melontarkan puing-puing radioaktif berkecepatan tinggi ke berbagai penjuru tata surya. Di Bumi, endapan isotop radioaktif tersebut hanya dapat terlacak pada sedimen laut dalam dengan rentang usia maksimal sekitar 10 juta tahun terakhir karena tergerus erosi dan dinamika tektonik. Sebaliknya, permukaan Bulan mampu mempertahankan catatan fisik ledakan supernova selama 80 hingga 100 juta tahun, bahkan lebih lama.
Usai Kebakaran, Masyarakat Bangun Kembali Rumah di Desa Adat Sade

Perhitungan Sebaran Isotop di Regolit Bulan
Kondisi tanah Bulan (regolit) terus mengalami proses pembalikan dan pencampuran akibat hantaman mikrometeorit hingga asteroid besar. Fenomena yang dikenal sebagai impact gardening ini menyebabkan material radioaktif dari supernova kuno tertanam dan teraduk di berbagai tingkat kedalaman.
Guna membaca rekaman sejarah tersebut, tim ilmuwan yang dipimpin oleh peneliti keplanetan Emily Costello dari University of Hawaii at Manoa mengembangkan model matematika khusus. Perhitungan ini dirancang untuk mensimulasikan proses pencampuran regolit sekaligus laju peluruhan radioaktif dari materi bintang yang jatuh.
Terduga Pelaku Pembakaran Mayat Wanita di Pos Ronda Demak Ditangkap

Model ilmiah ini telah divalidasi menggunakan data pembanding dari sedimen laut dalam Bumi serta sampel regolit Bulan yang dikumpulkan pada misi Apollo. Hasil pemodelan berhasil memprediksi profil kedalaman dan konsentrasi sebaran isotop besi-60 (Iron-60) beserta elemen berat lainnya, membuka metode baru dalam mempelajari sejarah ledakan bintang purba di sekitar tata surya.






