Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda memicu sebaran abu vulkanik ke arah barat hingga menjangkau wilayah daratan Provinsi Lampung pada Sabtu (5/9) malam. Kendati aktivitas letusan telah berlangsung sejak Sabtu dini hari hingga siang hari, dampaknya baru dirasakan meluas oleh masyarakat perkotaan pada petang hari seiring pergerakan arah angin.
Warga di Kota Bandar Lampung, yang berjarak sekitar 80 kilometer dari posisi gunung api di Selat Sunda, mulai mengeluhkan hujan abu vulkanik usai waktu magrib. Paparan partikel debu halus terasa mengganggu aktivitas luar ruangan dan mengotori permukiman warga.
Di wilayah Sukarame, Bandar Lampung, warga melaporkan debu vulkanik menimbulkan perih di mata dan menempel di wajah saat beraktivitas di luar rumah. Butiran abu tersebut juga mulai mengendap di lantai rumah warga. Paparan serupa dilaporkan terjadi di kawasan Kemiling serta meluas hingga ke Kecamatan Natar di Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di sekitar kawasan Bandara Lampung.
Momen Kapal Nelayan di Lampung Kena Hujan Batu Letusan Gunung Anak Krakatau

Sebaran abu vulkanik juga sempat mengarah ke timur sebelum berbelok ke barat. Seorang pelancong asal Bogor yang tengah berada di Pulau Sangiang, kawasan Selat Sunda di sebelah timur Anak Krakatau, melaporkan bahwa debu mulai menyelimuti pulau tersebut dari sore hingga malam hari akibat perubahan embusan angin.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memakai masker dan pelindung mata ketika beraktivitas di luar ruangan jika wilayahnya terpapar hujan abu.
Mendagri Tinjau Bedah Rumah Bukit Duri, Ajak Pemda Dukung Percepatan

Berdasarkan data pemantauan pos pengamatan pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, rekaman erupsi masih berlangsung secara menerus. Visual kolom letusan sempat tidak teramati akibat kabut tebal yang menyelimuti kawasan kawah. Meski demikian, aktivitas kegempaan tercatat dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter dan durasi 21.600 detik, diiringi suara gemuruh serta dentuman berintensitas lemah hingga sedang.
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Level III (Siaga). Pusat pemantauan menetapkan rekomendasi larangan beraktivitas bagi masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.






