Sebuah kapal yang membawa rombongan nelayan asal Pesawaran dihujani material batu saat melintasi perairan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan pada Sabtu (5/9). Seluruh nelayan di atas kapal berhasil selamat meski sempat terjebak dalam jangkauan lontaran material vulkanik.
Peristiwa tersebut terjadi saat nelayan bernama Surya bersama empat rekannya tengah menempuh perjalanan pulang ke Lampung usai bekerja di Jawa. Surya mengungkapkan bahwa tanda-tanda aktivitas Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan api dan asap sebenarnya telah terlihat sejak malam hari sebelum mereka melintas.
Rombongan nelayan bertolak dari Jawa sekitar pukul 04.00 WIB. Ketika mendekati kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau sekitar pukul 10.00 WIB, material batu letusan mulai menghujani perahu yang mereka tumpangi.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Barat, Bandar Lampung Hujan Abu

Menurut keterangan Surya, lontaran batu mulai menghujani kapal sejak berada di jarak 10 hingga 30 meter dari gunung dan masih terus mengenai kapal hingga radius 300 meter. Material batu vulkanik yang berjatuhan bahkan menumpuk di dalam kapal hingga diperkirakan mencapai lima sampai enam karung.
Akibat tertahan oleh paparan hujan batu tersebut, durasi pelayaran membengkak signifikan. Perjalanan yang biasanya memakan waktu sekitar lima jam berubah menjadi lebih dari sembilan jam, di mana kapal baru bisa mendarat sekitar pukul 13.30 WIB. Surya memastikan seluruh awak kapal selamat tanpa adanya korban jiwa.
Peringatan Zona Bahaya dari Tim SAR
Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, membenarkan kejadian adanya kelompok nelayan yang terjebak hujan material erupsi Gunung Anak Krakatau dan memastikan semuanya dalam kondisi selamat.
Mendagri Tinjau Bedah Rumah Bukit Duri, Ajak Pemda Dukung Percepatan

Rezie menegaskan kembali pentingnya menaati aturan batas aman aktivitas di sekitar gunung api tersebut. Masyarakat maupun nelayan secara ketat dilarang mendekat dalam radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau untuk menghindari risiko kecelakaan maritim akibat letusan.
Saat ini Tim SAR tetap bersiaga memantau perkembangan situasi di lapangan. Perubahan arah angin menjadi perhatian petugas karena berpotensi membawa sebaran hujan abu maupun material batu vulkanik menuju daratan berpenduduk terdekat, termasuk Pulau Sebesi.






