Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengejutkan pasar keuangan global setelah memberi sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat masih memandang ancaman inflasi sebagai persoalan serius. Pernyataan tersebut membuka kembali peluang kenaikan suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakan moneter mendatang.
Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Warsh mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan masih harus bekerja lebih keras demi mengendalikan laju inflasi. Sinyal bernada hawkish ini meredakan spekulasi pasar sebelumnya yang menilai Warsh akan ragu mengetatkan kebijakan moneter akibat tekanan dari Presiden Donald Trump.
Perubahan pandangan tersebut langsung memicu pergeseran tajam pada proyeksi pelaku pasar. Mengacu pada data CME Group, kontrak berjangka suku bunga kini memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan berikutnya melonjak hingga kisaran 58 persen. Angka tersebut melompat drastis dibandingkan posisi sehari sebelumnya, Kamis (27/8/2026), yang berada di level 35 persen.
12 Bank di RI Tutup dalam 8 Bulan!

Respons Pasar Saham dan Obligasi AS
Pasar saham Wall Street langsung bereaksi terhadap proyeksi suku bunga yang lebih tinggi. Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi kurang dari 0,1 persen, S&P 500 turun 0,2 persen, dan Nasdaq Composite melemah 0,5 persen. Pelemahan lebih dalam dialami indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 yang anjlok 1,4 persen, serta sektor industri S&P 500 yang turun 1 persen.
Meski demikian, tekanan pada bursa saham tertahan oleh kinerja Nvidia yang meredakan kekhawatiran seputar permintaan chip kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut menjaga indeks S&P 500 tetap bertahan sekitar 1 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masanya.
Di pasar surat utang, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 4,721 persen, lebih tinggi dari posisi Kamis di level 4,671 persen dan posisi 4,682 persen sebelum pengumuman intervensi fiskal. Sementara itu, yield US Treasury tenor 30 tahun ditutup pada 5,207 persen pada Jumat (28/8/2026), turun dibandingkan level 5,266 persen sebelum pengumuman buyback.
Perkuat Kolaborasi, Bank bjb dan YKEP Perluas Akses Produk Perbankan

Sebelumnya, yield obligasi 30 tahun sempat menembus 5,3 persen pasca-rapat The Fed edisi Juli, menyentuh level tertingginya sejak 2007. Lonjakan yield tersebut mendorong Departemen Keuangan AS meluncurkan rencana pelipatgandaan pembelian kembali obligasi jangka panjang. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan langkah buyback tersebut ditujukan untuk menekan yield jangka panjang yang dinilai tidak mencerminkan fundamental ekonomi AS.
Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada rilis data ekonomi terbaru menjelang rapat penentuan suku bunga The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September 2026.






