Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Pergerakan positif ini didorong oleh sikap antisipatif investor yang tengah menanti pengumuman keputusan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 1,95%, diikuti oleh penguatan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq sebesar 1,5%. Sementara itu, bursa saham Jepang turut mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan indeks Nikkei 225 sebesar 0,52% dan Topix 0,37%. Indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, juga membukukan penguatan sebesar 0,83%.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 4% ke kisaran US$82 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh memanasnya ketegangan di Timur Tengah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan bahwa Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan serangan rudal balistik mendadak terhadap markas pasukan AS di wilayah tersebut. CENTCOM mengonfirmasi bahwa seluruh rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan dampak lanjutan.
UKM Tetap Resilien, Sektor Produktif Penopang Ekonomi Semester I-2026

Pergerakan bursa Asia juga dipengaruhi oleh tren penutupan di Wall Street pada hari Selasa. Indeks Dow Jones melesat lebih dari 500 poin, mencatatkan reli selama tiga hari berturut-turut. Namun, indeks Nasdaq Composite justru ditutup di zona merah untuk hari kelima secara beruntun akibat tekanan jual pada saham-saham semikonduktor. Instrumen VanEck Semiconductor ETF (SMH) tercatat turun 3,5% pada Selasa, yang memperdalam koreksi mingguannya hingga melampaui 9%.
Dari pasar saham Amerika Serikat, saham Ford Motor melonjak 4% pada perdagangan purnajual setelah perusahaan mencetak laba di atas ekspektasi dan menaikkan proyeksi kinerjanya untuk tahun 2026. Sebaliknya, saham Visa terkoreksi sekitar 1% imbas panduan bisnis perusahaan yang dinilai mengecewakan pasar.
Fokus utama pelaku pasar kini tertuju pada arah kebijakan moneter The Fed serta konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memproyeksikan peluang hampir 70% bahwa bank sentral AS akan menahan suku bunga acuannya di level 3,5% hingga 3,75%.
Danantara Ungkap Laba Telkom Berpotensi Naik Sedikitnya 30 Persen Lewat Streamlining

Global Market Strategist New York Life Investment Management, Julia Hermann, menilai bahwa pasar saat ini terlalu memprioritaskan risiko inflasi. Menurutnya, pelaku pasar cenderung mengesampingkan potensi dampak ekonomi dari kebijakan pengetatan moneter lebih lanjut oleh bank sentral.
Selain menanti keputusan suku bunga, investor juga akan memantau rilis laporan keuangan dari sejumlah perusahaan raksasa, seperti Procter & Gamble dan Humana, sebelum pembukaan pasar AS. Setelah perdagangan ditutup, fokus akan beralih pada laporan kinerja Microsoft, Meta Platforms, serta produsen cip Qualcomm.






