Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Danantara Indonesia terus mendorong percepatan transformasi di tubuh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Langkah transformasi ini diakselerasi melalui agenda perampingan atau streamlining terhadap portofolio anak-anak perusahaan perseroan.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria meyakini bahwa langkah streamlining anak usaha tersebut memiliki dampak yang sangat positif terhadap profitabilitas perusahaan. Menurut perhitungannya, perampingan portofolio anak usaha tersebut berpotensi meningkatkan laba Telkom sedikitnya 30 persen.
Pangkas Anak Perusahaan Menjadi 18 Entitas
Dalam pelaksanaan agenda perampingan bisnis tersebut, Telkom menargetkan pemangkasan jumlah anak perusahaan secara bertahap. Dari total 68 anak perusahaan yang ada saat ini, Telkom menargetkan pengurangan signifikan hingga tersisa menjadi 18 entitas anak usaha saja.
IHSG Pangkas Koreksi, Turun 0,73% di Akhir Sesi 2

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyampaikan bahwa proses streamlining ini akan menyasar sejumlah unit di bawah segmen Business-to-Business Information and Communication Technology (B2B ICT). Dian menyebutkan beberapa anak usaha yang masuk dalam target program perampingan tersebut antara lain PINS, Telkom SIGMA, Infomedia, dan beberapa entitas lainnya di bawah klaster terkait.
Langkah penataan dan perampingan aset tersebut juga memperhitungkan aspek pembukuan dan restrukturisasi keuangan. Berdasarkan keterangan jajaran manajemen Telkom, total nilai cut loss dan write off dengan segala implikasinya dari proses penataan entitas bisnis ini mencapai Rp17 triliun.
Profibilitas Meningkat, MSIG Life Dorong Pertumbuhan Berkualitas

Fokus Menjadi Strategic Holding dan Infrastruktur Digital
Transformasi dan perampingan struktur grup ini dirancang untuk memperkuat posisi fundamental Telkom ke depan. Perseroan diarahkan untuk memperkokoh perannya sebagai strategic holding yang berfokus penuh pada sektor konektivitas dan infrastruktur digital.
Arah fokus perseroan pada bisnis inti tersebut telah tercermin dalam alokasi anggaran investasi. Pada paruh pertama tahun 2026, tercatat lebih dari 94 persen dari total belanja modal dialokasikan perseroan untuk menopang segmen bisnis inti B2C serta B2B infrastruktur.






