Petugas operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, memasang penutup khusus pada mesin pesawat yang terparkir di apron pada Minggu, 6 September 2026. Langkah pencegahan ini diambil guna melindungi bagian mesin dari paparan debu dan partikel vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pemasangan penutup berbahan khusus atau engine inlet cover dilakukan dengan bantuan tangga lipat langsung pada kedua mesin di sayap pesawat. Di area apron, sejumlah armada dari maskapai Garuda Indonesia, Citilink, Pelita Air, hingga Lion Air Group tampak terparkir dengan kondisi mesin terlindungi.
Ratusan Penerbangan Terdampak Penutupan Sementara
Sebaran abu vulkanik tersebut memicu gangguan operasional penerbangan yang signifikan. Manajemen Bandara Soekarno-Hatta mencatat sebanyak 301 penerbangan mengalami dampak secara langsung sejak pukul 01.30 WIB hingga 13.30 WIB.
Universitas Terbuka Genap 42 Tahun, Dorong Inovasi Pendidikan Berdampak untuk Negeri

Asisten Deputi Komunikasi dan Legal Kantor Cabang Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, merinci bahwa gangguan tersebut mencakup 233 penerbangan domestik, 58 penerbangan internasional, serta 10 penerbangan kargo. Dampak yang terjadi meliputi penundaan jadwal keberangkatan (delay), pembatalan jadwal terbang (cancellation), pengalihan pendaratan ke bandara alternatif (diversion), hingga gangguan operasional lainnya.
Penutupan sementara atau aerodrome closed diterapkan sebagai bentuk mitigasi demi menjamin keselamatan operasional penerbangan di tengah paparan abu vulkanik.
Layanan Pemulihan Penumpang dan Posko Lapangan
Untuk menangani para calon penumpang yang tertahan di bandara, pengelola mengaktifkan skema Service Recovery Action (SRA). Melalui skema ini, bandara membagikan makanan dan minuman ringan serta menyediakan armada bus di tiap terminal guna memfasilitasi perjalanan penumpang menuju hotel sesuai hasil koordinasi bersama maskapai.
Kurir Sabu 4 Kg Ditangkap di Labuhanbatu, Pekerja Migran Asal Jatim Terancam Hukuman Mati

Sejumlah fasilitas terminal juga difungsikan menjadi tempat istirahat tambahan bagi penumpang terdampak, termasuk area ruang santai karyawan (employee lounge). Langkah ini bertujuan memberikan ruang tunggu yang lebih nyaman selama operasional penerbangan belum normal.
Selain itu, posko koordinasi lapangan didirikan di Terminal 1B untuk memantau dinamika operasional. Setiap maskapai penerbangan turut membuka meja pelayanan informasi di seluruh terminal demi melayani kebutuhan serta pertanyaan penumpang terdampak.






