Data penginderaan jauh satelit milik NASA merekam lonjakan titik panas (hotspot) serta sebaran asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Pantauan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada Satelit Aqua memperlihatkan gumpalan asap pekat yang membubung dari area lahan gambut yang terbakar.
Kebakaran pada lahan gambut dipicu oleh kondisi lahan yang mengering akibat pengeringan untuk keperluan perkebunan atau pertanian, sehingga material organik di dalamnya menjadi sangat mudah tersulut. Api yang membara di bawah permukaan tanah (ground fire) dapat bertahan selama berminggu-minggu, menciptakan kabut asap pekat yang menyulitkan upaya pemadaman oleh tim darat. Karhutla ini turut melepaskan cadangan karbon yang tersimpan ribuan tahun ke atmosfer sebagai gas rumah kaca, termasuk karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4).
Dampak Pencemaran Udara dan Ancaman Ekosistem
Sebaran kabut asap telah memicu penurunan kualitas udara yang ekstrem di sejumlah daerah. Kualitas udara di Kota Padang sempat menyentuh angka AQI 434 yang masuk dalam kategori Berbahaya. Menanggapi kondisi ini, Koalisi Sipil Sumbar mendesak otoritas terkait untuk mengusut tuntas sumber asap karhutla serta menghentikan praktik normalisasi bencana kabut asap.
12 Orang Sesak Napas Akibat Kebakaran Sampah di Tangsel, Termasuk 2 Damkar

Paparan asap tebal juga berdampak fatal terhadap fauna. Di Kabupaten Ketapang, seekor orangutan bernama Sempurna ditemukan dalam kondisi kritis di area perkebunan kelapa sawit sebelum akhirnya mati. Berdasarkan hasil nekropsi BKSDA Kalimantan Barat, satwa tersebut mengalami gangguan pada organ paru-paru akibat paparan asap.
Respons Lapangan dan Pengawasan Korporasi
Menanggapi ancaman karhutla yang meluas, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menginstruksikan seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan terlibat aktif dalam langkah pencegahan.
Api Kembali Muncul di TKP Kebakaran Sampah Pisangan, Asap Mengepul

Sementara itu, operasi pemadaman terus berjalan di lapangan. Personel Manggala Agni Daops Sumatera XIV-Banyuasin diterjunkan memadamkan api yang membakar lahan di Desa Simpang Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Kendati titik api yang padam tidak lagi terdeteksi sebagai hotspot pada sistem pemantauan Sipongi, kepulan asap tebal dilaporkan masih dapat bertahan di wilayah terdampak.






