Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai 12.339,74 hektare hingga 1 September 2026. Total area terbakar tersebut berasal dari 2.332 peristiwa karhutla yang melanda berbagai wilayah di provinsi tersebut.
Selain mendata luasan lahan dan frekuensi kebakaran, BPBD Kalsel mencatat sebanyak 17.093 titik panas di Kalimantan Selatan. Data sebaran hotspot ini dihimpun dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, yang bersumber dari citra satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.
Pemantauan terhadap titik panas dan perkembangan kebakaran terus digencarkan setiap hari sebagai rujukan langkah operasional di lapangan. Penanganan difokuskan secara khusus pada kawasan prioritas, seperti wilayah ring satu bandar udara guna mencegah gangguan terhadap aktivitas penerbangan.
Sudah 12 Jam Kebakaran Lapak di Jakbar Belum Padam, Begini Kondisinya

Sebaran Wilayah Terdampak Karhutla di Kalsel
Berdasarkan data penanganan bencana, Kabupaten Banjar mencatat area terbakar terluas di Kalimantan Selatan, yakni mencapai 2.737,51 hektare dari 441 kejadian. Sementara itu, frekuensi kebakaran tertinggi terjadi di Kota Banjarbaru dengan 474 kejadian yang menghanguskan 1.831,80 hektare lahan.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tanah Laut juga mencatatkan dampak luasan yang tinggi. Di Hulu Sungai Selatan, kebakaran terjadi sebanyak 324 kali dengan luas 2.203,97 hektare, sedangkan di Tanah Laut tercatat 359 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 2.072,35 hektare. Kabupaten Tapin menyusul dengan 183 kejadian seluas 1.244,68 hektare, dan Barito Kuala mencatat 168 kejadian dengan luas 971,70 hektare.
KDKMP Didorong Jadi Pusat Perputaran Ekonomi Masyarakat Desa

Sebaran kejadian dan luasan karhutla di kabupaten serta kota lainnya meliputi: - Hulu Sungai Utara: 98 kejadian (532,85 hektare) - Tanah Bumbu: 69 kejadian (197,60 hektare) - Balangan: 66 kejadian (196,51 hektare) - Hulu Sungai Tengah: 58 kejadian (156,11 hektare) - Tabalong: 29 kejadian (135,13 hektare) - Kotabaru: 48 kejadian (58,07 hektare) - Kota Banjarmasin: 15 kejadian (1,45 hektare)
Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra menegaskan bahwa penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Ketepatan pemantauan data satelit, kesiapsiagaan tim, dan respons pemadaman yang cepat di lapangan dinilai menjadi faktor penentu dalam meminimalkan perluasan dampak kebakaran.






