Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan bahwa tolok ukur kesuksesan seorang pemimpin organisasi tidak lagi ditentukan oleh kelengkapan laporan tertulis atau intensitas rapat yang digelar. Menurutnya, kinerja kepemimpinan masa kini harus dibuktikan melalui dampak nyata dan terukur yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat atas apa yang dikerjakan dari meja kerja birokrasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Rini dalam acara Pelepasan Peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI Tahun 2026 di Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Kamis (3/9). PKN Tingkat I merupakan pelatihan struktural kepemimpinan strategis yang diselenggarakan bagi aparatur sipil negara (ASN) hingga perwira yang tengah maupun akan menduduki jabatan pimpinan tinggi madya.
Api Kebakaran Sampah Pisangan Tangsel Masih Berkobar, Asap Mengepul

Fokus Menjawab Masalah Fundamental
Rini menjelaskan bahwa keberhasilan reformasi birokrasi serta proyek perubahan yang dirancang oleh para peserta PKN dinilai langsung dari kontribusi konkritnya terhadap penyelesaian persoalan fundamental bangsa. Kinerja tersebut dilihat dari perubahan nyata di lingkup tugas dan instansi masing-masing, seperti penurunan angka kemiskinan di daerah, kemudahan pengurusan perizinan, penurunan angka stunting, hingga peningkatan kemudahan akses masyarakat terhadap layanan dasar.
Ia juga menyoroti bahwa isu-isu strategis dan kompleks, seperti pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perbaikan pelayanan publik, tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu instansi saja. Rini menekankan pentingnya menghapus ego sektoral serta meninggalkan pola kerja terkotak-kotak (silo). Kolaborasi lintas sektor ditegaskan menjadi syarat mutlak bagi terwujudnya keberhasilan pembangunan yang merata.
Tinjau Siswa Korban Gempa Flores, Menag Apresiasi Semangat Siswa-Guru

Disiplin Kepemimpinan Strategis
Menanggapi arahan tersebut, Kepala LAN Muhammad Taufiq menyatakan dukungannya terhadap penegasan Menteri PANRB. Taufiq menggarisbawahi bahwa kepemimpinan strategis menuntut kedisiplinan para pemimpin birokrasi dalam memilah secara jelas batasan antara sekadar menjalankan aktivitas, menghasilkan keluaran, mencapai hasil, hingga menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.






