Harga minyak mentah dunia ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (3/9). Pasar berada di antara kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan imbas memanasnya tensi militer di Timur Tengah serta sinyal diplomatik dari konflik Rusia-Ukraina.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat turun tipis 11 sen atau 0,12 persen ke level USD 95,52 per barel. Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 29 sen atau 0,32 persen menjadi USD 91,30 per barel. Pada sesi perdagangan yang sama, kedua acuan harga tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan sebelum akhirnya bergerak divergen.
Ketegangan geopolitik meningkat tajam menyusul serangan militer AS ke sejumlah wilayah Iran serta ancaman terbaru dari Israel terhadap Teheran. Menteri Kesehatan Iran melaporkan serangan AS pada Selasa malam tersebut menyebabkan 18 orang tewas dan 108 lainnya luka-luka. Bulan Sabit Merah Iran turut mencatat empat korban tewas dan 67 orang terluka dalam sebuah pesta pernikahan di dekat kawasan pesisir Selat Hormuz, sementara tiga pilot Angkatan Darat Iran dilaporkan gugur. Insiden ini menandai kontak senjata terbesar antara AS dan Iran sejak Juli.
Rame Rame Market Hadir Lagi di Bandung, Ada Cashback BRI hingga Rp 50 Ribu

Menanggapi situasi di jalur pelayaran vital tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Washington tidak berencana menggelar pembicaraan bilateral dengan Iran, kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai pelaku pasar saat ini tengah mencermati perkembangan lanjutan di lapangan. Pasar masih terus memantau apakah aksi militer AS pada awal pekan tersebut merupakan peristiwa tunggal atau berpotensi memicu eskalasi berkelanjutan.
Ada Bursa Mineral, OJK Usul Anggaran Tambahan Rp 340,2 Miliar

Di sisi lain, penguatan harga minyak tertahan oleh sentimen dari Eropa Timur. Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam forum ekonomi di Vladivostok, mengisyaratkan keterbukaan terhadap negosiasi perdamaian untuk mengakhiri perang di Ukraina dan menyebut sejumlah negara, termasuk AS dan China, siap mendukung penyelesaian damai tersebut.
Phil Flynn dari Price Futures Group menjelaskan bahwa pernyataan damai dari Moskow direspons pasar sebagai peluang meredanya kekhawatiran pasokan bahan bakar Rusia. Prospek berkurangnya serangan terhadap kilang minyak dan normalisasi produksi tersebut menjadi faktor penekan yang mengimbangi sentimen kenaikan harga minyak pada penutupan Kamis.






