Konflik antarteman yang berawal dari masalah sepele kerap berujung pada kekerasan fisik apabila dibiarkan berlarut-larut. Perasaan cemburu, kebiasaan saling sindir, hingga kesalahpahaman kecil di dalam suatu hubungan dapat menumpuk dan merusak kestabilan emosi seseorang. Fenomena ini nyata terjadi dalam insiden pengeroyokan yang menyeret nama TikToker Mondy Tatto di kawasan Bekasi baru-baru ini. Pihak kepolisian menduga bahwa tindak kekerasan tersebut dipicu oleh dua faktor utama, yakni kerumitan cinta segitiga serta pengaruh minuman keras. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa masalah pergaulan yang tidak segera diselesaikan sangat berpotensi bermuara pada tindakan kriminal.
Lingkungan pergaulan memiliki andil besar dalam menentukan bagaimana seseorang merespons suatu masalah. Berdasarkan temuan penelitian Permana dan Azca pada tahun 2023, individu yang berada di dalam lingkaran pertemanan tidak sehat akan mengalami kesulitan besar dalam mengontrol emosinya sendiri. Ketika perasaan kesal terus-menerus dipendam, emosi itu pada akhirnya akan meledak menjadi amarah yang merugikan pihak lain. Kondisi ini semakin parah jika kelompok tersebut memiliki kebiasaan menormalisasi keributan. Merujuk pada studi Hidayat (2024), tekanan dari lingkungan pertemanan yang buruk dapat mendorong seseorang untuk ikut-ikutan melakukan kekerasan secara bersama-sama. Seseorang yang awalnya tidak memiliki niat buruk bisa saja nekat menyerang orang lain hanya karena terpengaruh oleh teman satu kelompoknya tanpa memikirkan akibat ke depannya.








