Sebanyak 73 orang dilaporkan terluka setelah kelompok Houthi dari Yaman melancarkan rangkaian serangan ke wilayah Arab Saudi. Gempuran tersebut menyasar sejumlah kota di kawasan selatan kerajaan serta melumpuhkan operasional beberapa fasilitas energi strategis.
Berdasarkan keterangan koalisi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman, korban luka akibat serangan lintas perbatasan tersebut mencakup warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Gelombang serangan terfokus pada beberapa wilayah perkotaan di selatan, antara lain Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran.
Selain menimbulkan puluhan korban luka, rentetan proyektil dan serangan tersebut memaksa sejumlah instalasi energi di Arab Saudi menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu.
Ekonomi Negara Meroket 7,8%, Eks Pejabat Singgung Data Palsu

Eskalasi di Wilayah Perbatasan
Sebelum gelombang serangan ke kota-kota selatan terkonfirmasi, kelompok Houthi merilis sebuah rekaman video pada Senin (7/9/2026). Rekaman tersebut memperlihatkan kepulan asap tebal yang membubung dari deretan truk di dekat Al-Wadiah, kawasan lintasan perbatasan antara Yaman dan Arab Saudi.
Pihak Houthi mengklaim bahwa mereka sengaja menargetkan iring-iringan truk logistik yang melintas dari arah Arab Saudi. Kendati demikian, otoritas pemerintah Arab Saudi hingga saat ini belum memberikan konfirmasi resmi mengenai klaim spesifik atas serangan terhadap konvoi kendaraan di perbatasan tersebut.
Otoritas keamanan Saudi secara tegas melabeli rentetan serangan terbaru ini sebagai bentuk eskalasi yang sangat berbahaya.
Penjualan Mobil Meledak Lagi, Agustus Cetak Rekor 2026-Berkah GIIAS

Ancaman terhadap Pasokan Energi Global
Serangan ini terjadi di tengah memanasnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta tersendatnya jalur diplomasi damai di Timur Tengah. Gangguan pada infrastruktur kilang memicu lonjakan harga minyak mentah internasional.
Sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, stabilitas fasilitas energi Arab Saudi menjadi faktor krusial bagi pasokan bahan bakar global. Gangguan operasional akibat serangan udara ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelangsungan rantai pasok energi global jika konflik terus meluas.






