Aktivitas perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mampu menunjukkan daya tahan yang solid pada 2026. Laju pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan mencapai kisaran 5,2 persen, di tengah proyeksi perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan turun dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,0 persen pada akhir 2026 sebelum kembali pulih pada 2027.
Ketahanan tersebut ditopang oleh kinerja investasi asing langsung (FDI) yang terus mencatatkan tren positif. Minat pemodal internasional terpantau kuat pada beberapa sektor strategis, khususnya proyek hilirisasi, industri logam dasar, serta ekspansi fasilitas pusat data (data center) di dalam negeri.
Tantangan Neraca Pembayaran dan Respons Suku Bunga
Meskipun kinerja investasi menunjukkan tren positif, dinamika eksternal masih membayangi stabilitas makroekonomi domestik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya akibat beban impor energi yang masih tinggi serta perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia.
Keutamaan Puasa Senin Kamis Lengkap dengan Niat, Makna dan Tata Cara

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen. Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, menilai arah kebijakan tersebut cenderung berkarakter hawkish, dengan peluang kenaikan lanjutan menuju level 6,25 persen guna mengantisipasi volatilitas eksternal. Pandangan tersebut disampaikan dalam rangkaian perayaan hari ulang tahun Danamon ke-70 melalui acara Danamon Festival.
Penguatan Pasar Valas dan Kebijakan Lindung Nilai
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memperdalam likuiditas pasar keuangan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan pasar valuta asing. Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengungkapkan bahwa bank sentral telah memperkuat pasar valas domestik lewat skema transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction), penyempurnaan ketentuan transaksi valas, hingga implementasi ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (Vastra).
Ekonomi Global Tak Baik-baik Saja, RI Dorong Negara Berkembang Aktif Negosiasi

Kebijakan Vastra ditujukan secara khusus guna memperluas akses pelaku pasar serta investor global terhadap instrumen lindung nilai Rupiah langsung di pasar domestik. Upaya pendalaman pasar ini juga tercermin dari likuiditas perbankan, di mana dana pihak ketiga (DPK) valas industri perbankan tercatat tumbuh sebesar 18,1 persen secara year-to-date (YTD) dan 18,7 persen secara year-on-year (YoY) hingga Mei 2026.






