Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Prospek positif ini didorong oleh aliran investasi, belanja pemerintah, serta aktivitas ekonomi domestik yang dinilai masih solid di tengah ketidakpastian kondisi global.
Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menjelaskan bahwa Indonesia berada pada posisi yang relatif kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Ketahanan tersebut didukung oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga, arus investasi yang terus mengalir, serta sokongan dari berbagai sektor strategis baru.
Arus penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia juga terus menunjukkan tren positif. Minat investasi ini terlihat menguat, terutama pada sektor hilirisasi industri, industri logam dasar, hingga pengembangan pusat data (data center).
Land Cruiser 300 Hybrid EV dan Land Cruiser FJ Taklukkan Gumuk Pasir Yogyakarta

Tantangan Global dan Penguatan Pasar Keuangan
Di sisi lain, perekonomian global diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026. Kondisi tersebut ditandai dengan tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global sempat memicu tekanan inflasi, meski harga minyak diperkirakan berangsur menurun seiring penyesuaian pasokan global. Pertumbuhan ekonomi global sendiri diproyeksikan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,0 persen pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027.
Secara domestik, defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan defisit ini dipengaruhi oleh tingginya impor energi serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang utama.
Pertamina Patra Niaga Terima Kunjungan Wamendag, Jamin Keamanan Produk Elpiji

Selain itu, dinamika volatilitas pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter negara maju berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal dan stabilitas nilai tukar rupiah. Menghadapi potensi risiko tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan guna mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya di pasar valuta asing domestik.






