Pemerintah Arab Saudi kini berada di posisi terjepit di tengah keterbatasan pilihan militer dan diplomatik menyusul rentetan manuver agresif kelompok Houthi di Yaman. Ketegangan regional kian meningkat setelah kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut menguasai jalur-jalur pelayaran vital di selatan semenanjung Arab.
Eskalasi terbaru mencuat setelah Houthi berhasil merebut Pulau Perim yang strategis di mulut Laut Merah serta kota pelabuhan Mocha. Penguasaan wilayah ini ditujukan untuk mengamankan kendali atas Selat Bab al-Mandeb, sehingga secara langsung mengancam jalur perdagangan dan navigasi maritim kawasan.
Tekanan terhadap Riyadh kian berat ketika pipa minyak utama Timur-Barat milik Arab Saudi terpaksa ditutup akibat serangan pesawat tak berawak (drone) yang diluncurkan dari wilayah Irak. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Teheran mendalangi serangan proksi tersebut. Padahal, pipa strategis itu menjadi tumpuan utama Saudi untuk mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia menyusul penutupan paksa Selat Hormuz.
Penjelasan PDIP soal Pemecatan Achmad Hidayat dan Kaitan Kunjungan ke Solo

Keterbatasan Opsi dan Dinamika Bantuan AS
Peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), Cinzia Bianco, menilai Riyadh menghadapi dilema besar karena ruang gerak yang sangat terbatas untuk menghadapi Houthi secara efektif tanpa memicu kebakaran konflik yang lebih luas.
Di balik layar, Putra Mahkota Arab Saudi dilaporkan sempat dua kali menghubungi Donald Trump guna meminta bantuan serangan militer terhadap posisi Houthi, namun permintaan tersebut ditolak oleh Washington. Sebagai gantinya, Amerika Serikat mengirimkan sekitar 100 penasihat militer ke Riyadh murni untuk memperkuat dukungan intelijen. Sementara itu, mantan penasihat pemerintah Saudi, Nawaf Obaid, menegaskan bahwa permintaan yang diajukan Riyadh sejak awal memang hanya berfokus pada kerja sama intelijen, bukan pelibatan serangan udara militer AS.
Pertamina NRE Resmi Luncurkan Bioethanol Development Center

Sinyal Serangan Balasan di Tengah Blokade
Dari pihak Yaman, Kepala Kantor Berita Saba yang dikelola Houthi, Nasr al-Din Amer, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menghentikan tekanan militer ke Saudi. Serangan akan terus berlanjut hingga Arab Saudi menghentikan pengepungan dan blokade ekonomi serta perjalanan di wilayah Yaman utara yang telah berlangsung selama 12 tahun.
Melihat situasi lapangan yang kian panas, pakar Yaman dan penasihat risiko di Washington DC, Mohammed Al-Basha, memperingatkan indikasi kuat terjadinya aksi balasan berskala besar dari pihak Saudi. Analis geopolitik Saudi Salman Al-Ansari juga meyakini bahwa serangan balasan dari pasukan pemerintah Yaman yang disokong Riyadh sudah berada di depan mata.






