Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meminta perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk menyesuaikan aktivitas akademik menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Penyesuaian ini diarahkan untuk menekan risiko paparan abu vulkanik terhadap seluruh sivitas akademika di kawasan yang terdampak.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengimbau pihak kampus agar mengurangi berbagai kegiatan di luar ruangan. Kebijakan ini dapat diwujudkan melalui penerapan pembelajaran daring, pembelajaran campuran (hybrid), maupun metode lain yang dinilai efektif sesuai dengan situasi masing-masing perguruan tinggi.
Penyesuaian Pembelajaran dan Layanan Kampus
Fauzan menyampaikan arahan tersebut dalam konferensi pers yang digelar secara virtual pada Minggu (6/9/2026). Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa langkah strategis perlu segera diambil demi meminimalkan aktivitas di luar kampus bagi seluruh sivitas akademika.
Hilton Ramal Negara Asia Ini Bakal Jadi Raja Pariwisata Dunia

Pemerintah tidak menetapkan satu pola pembelajaran tunggal yang seragam untuk seluruh perguruan tinggi. Setiap institusi diberikan keleluasaan untuk menentukan kebijakan pembelajaran berdasarkan tingkat keparahan dampak abu vulkanik di wilayahnya masing-masing.
Selain proses perkuliahan, aktivitas layanan perkantoran dan berbagai kegiatan akademik lainnya di lingkungan kampus juga dapat disesuaikan. Kebijakan fleksibel ini diharapkan mampu mengurangi dampak langsung dari paparan debu dan abu vulkanik.
Kesiapsiagaan dan Posko Siaga Kampus
Untuk memperkuat mitigasi di lapangan, Fauzan menginstruksikan seluruh pimpinan perguruan tinggi agar mengaktifkan posko siaga di lingkungan kampus masing-masing. Keberadaan posko siaga ini ditujukan untuk membangun kesiapsiagaan internal kampus dalam merespons perkembangan situasi erupsi.
8 Bandara Tutup hingga Tengah Malam Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Posko siaga kampus juga memegang peranan penting dalam memastikan koordinasi antara pihak perguruan tinggi dan pemerintah daerah berjalan secara baik dan terpadu.
Imbauan penyesuaian aktivitas kampus ini dikeluarkan mengingat dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih bersifat dinamis. Kondisi di berbagai wilayah terdampak dapat terus berubah mengikuti perkembangan intensitas aktivitas vulkanik gunung serta pergerakan arah angin.






