Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengimbau masyarakat dan warganet agar tidak melakukan perundungan di media sosial terhadap dua korban keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo. Permintaan tersebut disampaikan Bobby menyusul temuan dampak psikologis yang dialami para korban selain gangguan kesehatan fisik.
Kedua korban yang dirujuk ke Jakarta tersebut adalah Agnesia Paruliana br Silitonga dan Febiona Purba. Langkah pemulihan keduanya kini mencakup penanganan medis sekaligus perlindungan kesehatan mental.
Bobby menegaskan bahwa perundungan siber sangat menghambat proses penyembuhan korban. Dari hasil pemeriksaan medis yang memuat empat poin evaluasi, poin keempat secara khusus menunjukkan bahwa kondisi kejiwaan anak terganggu akibat komentar negatif di media sosial yang menuduh mereka sekadar mencari perhatian.
Sederet Upaya Tangani Antrean Panjang di SPBU Kota Makassar

"Cuman saya minta tolong kepada kita semua, yang perlu dipulihkan bukan hanya kesehatan medis tapi juga mentalnya dan juga psikis," ujar Bobby usai mengantar keberangkatan kedua korban di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, sebagaimana dilaporkan pada Minggu (13/9/2026).
Intervensi Pemulihan Fisik dan Mental
Untuk meminimalkan tekanan psikologis, pihak pendamping telah meminta kedua korban menghentikan sementara aktivitas di media sosial sebagai intervensi internal. Bobby juga meminta pihak luar tidak mengeksploitasi kondisi korban secara berlebihan demi kelancaran masa pemulihan, bukan untuk menutupi informasi terkait peristiwa tersebut.
Target 100 Persen Sampah Terkelola pada 2029, Ini Strategi KLH

Kedua siswi tersebut diberangkatkan ke Jakarta atas permintaan langsung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemindahan ini bertujuan agar proses perawatan dan observasi kesehatan korban dapat dipantau secara langsung.
Bobby menjelaskan, tim dokter di Medan sebenarnya memiliki kapasitas medis yang mumpuni untuk menangani kasus tersebut. Namun, Wakil Presiden menginstruksikan agar korban dengan indikasi klinis serta tingkat trauma yang lebih berat mendapatkan penanganan rujukan intensif di Jakarta.






