Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam. Dampak sebaran material vulkanik tersebut memicu keluhan kesehatan berupa mata perih di kalangan warga serta mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah.
Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau mulai terasa semakin tebal di sekitar lingkungan permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB. Paparan partikel abu yang beterbangan tersebut tidak hanya mengganggu pandangan dan aktivitas luar ruangan warga, tetapi juga berdampak langsung terhadap ketenangan masyarakat pesisir.
Dampak Terhadap Sekolah dan Kecemasan Warga
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah memicu kecemasan di tengah masyarakat. Rasa khawatir tersebut berimbas langsung pada tingkat kehadiran siswa di sekolah yang menjadi lebih sepi, sehingga proses belajar mengajar tidak dapat berjalan secara optimal.
Erupsi Anak Krakatau, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Sementara

Kondisi ini mendorong Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat, mendatangi Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi resmi dan langsung mengenai status serta kondisi terkini gunung api tersebut, yang nantinya akan dijelaskan kepada para siswa serta para wali murid agar tidak diliputi ketidakpastian.
Suara Gemuruh dan Evakuasi Mandiri
Kekhawatiran warga pesisir berakar dari rangkaian suara gemuruh dan getaran yang terus-menerus terdengar dan dirasakan sejak Jumat (4/9) malam. Hal tersebut membuat warga sekitar proaktif mencari kejelasan terkait aktivitas vulkanik yang sedang berlangsung.
Hujan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Melanda Banten, Warga Diimbau Gunakan Masker

Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, sengaja mendatangi Pos PGA Anak Krakatau demi memastikan situasi terkini setelah merasakan getaran dan gemuruh berkepanjangan sejak malam sebelumnya. Menghadapi situasi tersebut, sejumlah warga di kawasan terdampak juga berinisiatif mengamankan diri dengan berpindah secara mandiri ke daerah pegunungan untuk mencari tempat yang lebih aman.






