Sebuah tayangan televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menyiarkan video ancaman yang secara terbuka menargetkan putra bungsu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Barron Trump. Dalam siaran berdurasi sekitar tiga menit tersebut, disebutkan adanya imbalan sebesar US$10 juta atau sekitar Rp 177 miliar bagi pihak yang berhasil menemukan lokasi pemuda berusia 20 tahun itu.
Segmen video yang ditayangkan awal pekan ini mengusung judul provokatif "Where to kill Barron Trump?!". Tayangan tersebut memperlihatkan visualisasi grafis dramatis terkait dugaan aktivitas pengawasan, pemantauan kegiatan daring, hingga penelusuran jejaring pertemanan dan orang-orang di sekitar Barron. Siaran itu juga memaparkan narasi mengenai upaya memetakan relasi sosialnya guna menembus proteksi keamanan dari Dinas Rahasia AS (Secret Service).
Berdasarkan laporan CNN International, video ini menandai pertama kalinya sebuah siaran televisi Iran secara langsung dan spesifik menyasar Barron Trump. Sebelum tayangan ini muncul, ancaman serupa dari pihak Iran pernah dialamatkan kepada Ibu Negara Melania Trump.
Pertamina Eco RunFest Bawa Inisiatif Keberlanjutan & Nol Jejak Sampah

Menanggapi peredaran video tersebut, pihak Secret Service menyatakan telah mengambil langkah antisipasi. Juru bicara Secret Service, Nate Herring, menegaskan bahwa lembaganya terus memantau dan menindaklanjuti setiap potensi bahaya terhadap seluruh figur yang berada dalam pengawalan resmi.
"Secret Service mengetahui video tersebut dan menyelidiki segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai ancaman terhadap orang-orang yang kami lindungi," kata Herring kepada CNN International.
Di sisi lain, media independen Iran International menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen keabsahan klaim operasional maupun kapabilitas intelijen yang ditampilkan dalam tayangan IRIB tersebut.
Kapal Induk Bawa 5.000 Tentara AS Merapat ke Tetangga RI, Ada Apa?

Ketegangan antara otoritas keamanan AS dan pihak Iran terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Sejak 2020, jaksa penuntut federal AS menuduh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merencanakan pembunuhan terhadap Trump beserta mantan pejabat senior AS. Rencana tersebut dinilai sebagai aksi balas dendam atas kematian komandan Pasukan Quds, Qasem Soleimani, yang tewas akibat serangan militer AS pada 2020.
Tuduhan ancaman kembali mencuat pada 2024 ketika Teheran diduga menugaskan seorang agen untuk merancang skema pembunuhan terhadap Trump. Tingginya risiko keamanan ini juga terlihat saat Trump menghadiri KTT NATO di Turki pada Juli lalu, di mana ia harus meninggalkan lokasi acara menggunakan pesawat militer alternatif menyusul adanya kekhawatiran atas potensi ancaman fisik terhadap keselamatannya.






