Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo kini dialihkan sepenuhnya melalui jalur darat setelah operasi pengeboman air (water bombing) via helikopter dihentikan sementara waktu. Keputusan ini diambil menyusul kondisi cuaca buruk di sekitar lokasi yang dinilai membahayakan keselamatan penerbangan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menyampaikan bahwa hembusan angin kencang dan keberadaan awan tebal menjadi kendala utama operasi udara. Terpaan angin kencang berpotensi memicu turbulensi ekstrem bagi helikopter pemadam, sedangkan tutupan awan tebal membatasi jarak pandang pilot sehingga penyiraman dari udara tidak memungkinkan untuk dilakukan secara optimal.
9 Kabupaten-Kota di NTB Darurat Kekeringan, 263.310 Jiwa Terdampak

Akibat kendala cuaca tersebut, helikopter tidak mencatatkan drop air sama sekali pada Minggu (13/9). Angka ini menurun drastis dibanding dua hari sebelumnya, di mana operasi udara berhasil menyiramkan 17.000 liter air pada Jumat (11/9) dan 15.000 liter air pada Sabtu (12/9).
Menghadapi penghentian sementara operasi udara, tim gabungan memusatkan seluruh kekuatan pada operasi pemadaman darat guna mencegah kobaran api merembet ke area permukiman. Ratusan personel yang dikerahkan meliputi petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, unsur TNI, Kepolisian, serta para relawan.
Korban Kapal Virgo yang Sudah Dievakuasi Jadi 107 Orang, 6 Meninggal Dunia

Petugas gabungan di lapangan masih terus berjibaku memadamkan kepulan asap yang terpantau muncul dari area rerumputan di bawah Jemplang, jalur yang mengarah masuk ke kawasan Gunung Bromo. Kebakaran ini mulanya terdeteksi di kawasan Sabana Pengol, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (10/9), sebelum akhirnya kobaran api meluas hingga ke wilayah Jemplang, Kabupaten Malang, pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 16.20 WIB.






